Selasa, 26 April 2011

Komitmen Da'i Sejati

Saudaraku,, mungkin kita memiliki aktifitas yang luar biasa. Tak hanya kegiatan yang diperuntukkan kepentingan pribadi namun kegiatan sosial bahkan dakwah mengisi hari-hari kita. Sampai ada pepatah dari seorang teman yang menyatakan “aku tidak mengenal hari sabtu dan minggu”.. begitulah waktu demi waktu, hari demi hari dilewati dengan aktifitas yang telah menyita waktu, pikiran, tenaga hingga materi. Namun apakah yang kita lakukan sudah berjalan sesuai dengan sebagaimana mestinya?? Mari kita renungkan hal-hal berikut ini :

  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merbak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin  yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
  • Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka hati seorang da’i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.
  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah “Saya sadar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin Anda akan selalu memaafkan saya.”
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka tidak mungkin akan terjadi kecerobohan dalam menunaikan kewajiban dan tugas dakwah. Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka semua ornag akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap da’i, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena dia akan selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan atau mencegah kemungkaran. Atau, menjadi murabbi yang gigih mendidik dan mengajari anak serta istrinya di rumah. Da’i yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
  • Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun. Semboyannya adalah “Apa yang ada padamu akan habis dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.”
  • Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan patuh dan taat tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi arti keuntungan pribadi dan menang sendiri.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata. Tidak ada kata “ya” untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat. Kata yang ada adalah kata “ya” untuk setiap perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka setiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakan kebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip dakwah di dalam hatinya.
  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah.
  • Jika ada yang bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa sebenarnya bentuk komitmen saya terhadap dakwah?” (Komitmen Da’i Sejati)


Sebenarnya apa yang telah dilakukan? Bisa saja semua itu hanyalah rutinitas yang tak bernilai. Sungguh telah merugi diri yang melakukan aktifitas tapi tak bernilai dan bermakna. Semoga kita dapat merefleksi atas teguran-teguran itu dan memperbaharui komitmen terhadap dakwah.

  
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." 
(QS. At Taubah: 41)
 
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS.An Nahl:97)

 Wallahu'alam...

Jumat, 15 April 2011

Buah Berukhuwah

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Mahasuci Allah, Zat yang telah membersihkan hati untuk menyemai ruh ukhuwah buat hamba-Nya yang merindukan kebersamaan. Terpujilah Dia, Zat yang telah menghadiahi banyak nikmat-Nya kepada kita, sehingga bisa bersama merasakan kenikmatan berukhuwah.

Salah satu di antara tiga unsur kekuatan  yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah adalah kekuatan ukhuwah; di samping kekuatan iman dan kekuatan qudwah, keteladanan. Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah SAW membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam di atas muka dunia kurang dari setengah abad.

Satu hal yang pasti, di antara ranah kebahagiaan dan ke-izzah-an Islam bisa kembali kita jejaki ketika hidup dengan jalinan ukhuwah yang mampu menepikan riak kebencian dan perselisihan. Dan ranah ini bisa didapat setelah berupaya saling mengenal. "Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan." (HR Muslim).

Namun, satu peristiwa perkenalan belum cukup. Butuh interaksi secara alamiah. Setelah itu, waktu dan kualitas pertemuanlah yang menentukan. Apakah perkenalan berlanjut pada persaudaraan. Atau sebaliknya. Dan keinginan kuat untuk bersaudara mesti diutamakan dari sekadar kenal. Terlebih persaudaraan karena iman dan takwa (baca QS al-Hujurat [49] ayat 13).

Proses mengenal adalah sebuah tahapan, bukan sesuatu yang akhir. Karena kehidupan adalah arus besar yang terus bergerak, berubah, dan berganti. Termasuk pada sikap dan karakter. Boleh jadi, seseorang bisa terheran-heran dengan perubahan teman lama yang pernah ia kenal. Karena ada yang beda dengan fisik, sikap, karakter, bahkan keyakinan.

Perubahan-perubahan itulah yang mengharuskan seorang mukmin senantiasa menghidupkan nasihat. Mukmin yang baik tidak cukup hanya mampu memberi nasihat. Tapi, juga siap menerima nasihat. Dari nasihat inilah, hal-hal buruk yang baru muncul dari seorang teman bisa terluruskan (baca QS al-'Ashr [103] : 1-3).

Berburuk sangka memang tidak dibenarkan. Tapi, ketika faktanya demikian dan bahkan sudah juga dinasihati,  kewaspadaan mungkin jadi pilihan. Karena tidak tertutup kemungkinan, keburukan bisa menular. Paling tidak, agar tidak kecipratan bau busuk temannya.

Rasulullah SAW bersabda, "Kawan pendamping yang saleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya." (HR Bukhari).

Waspada tidak berarti memutus pertemanan. Apalagi menyebar hawa permusuhan dan kebencian. Karena boleh jadi, sifat buruk bisa berubah baik. Sebagaimana, baik menjadi buruk. Kontribusi sebagai seorang teman mesti terus mengalir. Paling tidak, dalam bentuk doa.

Ada beberapa buah berukhuwah yang bisa kita nikmati. Pertama, ta'aruf; saling mengenal. Kedua, tahaabub, saling cinta. Ketiga, tafaahum,  saling memahami. Keempat, tanaashuh, saling menasehti. Kelima, takaarum, saling menghormati. Keenam, ta'awun, saling menolong. Ketujuh,  tahaadu, saling memberi hadiah. Kedelapan, tadaa'u, saling mendoakan. Kesembilan, tahafudz, saling menjaga nama dan kehormatan saudara dan tidak saling menjatuhkan. Kesepuluh, tazaawur, saling mengunjungi; dan kesebelas, tasholuh, saling mendamaikan. (baca QS 9: 71, 183: 3, 90: 17, 5: 2, 49: 10, 49: 13). (Republika Online)

Segalanya dapat terjadi karena ukhuwah
So, jaga ukhuwah dengan saudaramu
Karena itu sangat berharga
..Salam Ukhuwah..

Bagaimana Menyentuh Hati

Tugas kita sebagai da'i adalah seperti tugas para pegawai elektrik, mengalirkan kekuatan ini dan sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelilingnya.
 
Permasalahan yang menghadang seorang da'i di tengah medan dakwah adalah permasalahan yang muncul dari dalam dirinya, padahal orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu tersebut. Seseorang yang tidak memiliki kunci, maka sulit baginya untuk masuk. Manusia yang hatinya terkunci sehingga sulit dimasuki oleh dakwah, bagaikan brankas besar yang sebenarnya dapat dibuka hanya dengan kunci yang kecil. Demikianlah persoalannya, yang sesungguhnya kembali kepada diri sang da'i itu sendiri, yakni berkaitan dengan potensi dirinya secara ruhiyah, di samping kecakapannya untuk membuat program, serta ketahanan dalam mewujudkannya.
 
Tiga Karakteristik Manusia
Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah
2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah
3. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah
 
Menghafal Nama
Menghafal nama adalah hal yang penting, karena dari sinilah terjadi interaksi dan lahir sifat saling percaya sesama individu. Ia merupakan langkah awal dan benang pertama yang mengikat antara hati individu. Ia adalah benang yang mengikat bola-bola kecil yang berserakan. Setiap orang tentu akan merasa senang jika dipanggil
dengan namanya, apalagi dengan nama yang paling ia sukai. Menghafal nama mempunyai peran yang amat penting. Oleh kerana itu, beberapa metode yang dapat membantu permasalahan ini.
1. Hendaklah kita tanamkan rasa ingin dan suka menghafal nama orang lain.
2. Ketika sedang berkenalan, hendaklah kita siap untuk menghafal namanya—secara lengkap atau sebagian  saja— lalu mengingat-ingat dan memakainya pada saat itu juga tatkala bercakap-cakap.
3. Nama biasanya terdiri dari tiga bagian: namanya sendiri, nama orang tuanya, dan nama keluarganya. Nama yang paling disukai oleh pemiliknya adalah namanya sendiri
4. Ketika berkenalan dengan nama yang baru, Anda harus mengingat orangorang yang mempunyai nama yang sama —yang telah Anda kenal sebelumnya—agar mudah untuk menghafal.
5. Pada waktu berkenalan, Anda harus memperhatikan wajah dan keadaannya; apakah Ia berjanggut, memakai kaca mata, bagaimana warna kulit, suara, bentuk tubuhnya, pekerjaannya, serta di mana dan bagaimana perkenalan itu berlangsung.
6. Untuk memantapkan ingatan, Anda bisa menulis nama-nama tersebut, dan setiap kali bertemu hendaklah Anda memanggil mereka dengan nama-nama tersebut
7. Ketika bertemu lagi, Anda harus mengingat-ingat pertemuan-pertemuan sebelumnya dan pertemuan yang pertama kali, karena ini dapat membantu Anda dalam mengingat namanya dengan cepat.
8. Berkenalan dengan seseorang merupakan pintu bagi anda untuk berkenalan dengan teman-temannya, hingga anda mempunyai data nama yang amat banyak. Anda pun harus berusaha agar nama-nama itu tetap melekat di kepala.
 
Bagaimana Memulai Perkenalan
Tabiat dakwah kita adalah saling mengenal, dan  suatu saat dakwah kita akan dapat menghimpun orang-orang yang berjiwa baik dan berkepribadian mulia. Dulu, sebelum mengenal cara-cara yang islami dalam berdakwah, saya sering menggunakan cara-cara hasil ijtihad saya sendiri untuk memulai perkenalan. Suatu waktu saya pernah dengan sengaja menginjak kaki orang yang berdiri di sebelah saya sewaktu naik trem. Orang itu lalu berteriak marah, "Apakah Anda buta?" Saya menjawab dengan tenang, "Jangan terburu marah, wahai saudaraku. Memang saya ini seperti orang buta, kerana penglihatan saya yang sudah melemah." Lalu orang tersebut meminta maaf. Dengan demikian saya bisa mulai berkenalan.
 
Sarana-Sarana Dakwah
  • Jika bertemu maka berilah salam
  • Jika tidak kelihatan maka cari tahulah
  • Jika sakit maka jenguklah
  • Jika ia mengundangmu maka penuhilah
  • Jika ia bersin dan mengucapkan "hamdalah" maka jawablah (ucapkan "yarhamukallah")
  • Jika ia meninggal dunia maka antarkanlah ke tempat pemakamannya 
  • Jika ia meninggal dunia maka antarkanlah ke tempat pemakamannya
 
Langkah-Langkah yang Harus Ditempuh
  1. Bertasbih, Bertakbir, dan Bertahlil
  2. Menyingkirkan Duri di Jalan
  3. Menolong Orang yang Tuli atau Buta
  4. Menunjukkan Orang yang Kebingungan
  5. Menolong dengan Segera Orang yang Memerlukan Pertolongan
  6. Menolong Orang yang Lemah
 
Senyummu di Depan Saudaramu adalah Sedekah
Senyuman adalah gambaran isi hati yang menggerakkan perasaan dan memancar pada wajah seperti kilatan cahaya, seakan berbicara dan memanggil, sehingga hati yang mendengar akan terpikat. Senyuman yang dibuat-buat tidaklah sama dengan senyuman yang tulus ikhlas. Senyuman yang dibuat-buat adalah sebuah kreasi seni, tak lebih dan sebuah plastik. Sedangkan senyuman yang tulus ikhlas adalah fitrah; ia ibarat bunga yang mekar di tangkainya, indah dipandang mata, dan harum baunya, yang menjadikan jiwa terlena
dan bersimpati.
 
Penampilan Seorang Da'i
Cara bertutur kata dan penampilan seorang da'i akan menarik perhatian orang yang mendengar dan melihat-nya, karena pada dasarnya jiwa manusia cenderung dan tertarik dengan penampilan yang indah dan baik. Dari sini kita bisa melihat bahwa yang dipilih sebagai personil-personil pemasaran hasil produksi adalah orang-orang yang berpenampilan menarik, di samping kualitas produk yang terbaik.
 
Pandangan Kasih Sayang
Mata adalah sarana terpenting bagi seorang da'i dan merupakan wasilah yang dampaknya sangat besar bagi mad'u. Karena ketika seorang da'i memandang saudaranya sesama muslim dengan penuh kasih sayang, seakan-akan ia telah memberikan hartanya yang paling ber-harga.

Jika pandangan seseorang yang dipenuhi oleh rasa dengki saja dapat menghancurkan, maka pandangan yang penuh cinta dan kasih sayang juga dapat berpengaruh dalam mengantarkan kepada kebenaran yang akhirnya dapat mempererat barisan dan memperkuat bangunan. Ini merupakan kekuatan terpendam yang dimiliki oleh manusia.
 
Sebarkan Salam di Antaramu
Salam adalah salah satu dari asma Allah swt. Mengucapkan salam, baik kepada orang yang Anda kenal maupun yang tidak Anda kenal akan membangkitkan rasa aman, mempererat ikatan, dan menumbuhkan rasa cinta.
 
Lebih Dahulu Mengucap Salam
Jika Anda ingin berkenalan dengan seseorang, hendaklah Anda memulai dengan mengucap salam karena sikap itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang tersebut, selain itu juga mendapat pahala yang besar di sisi Allah. Apabila Anda sudah berkenalan dengan seseorang dan beberapa hari kemudian Anda berpapasan dengan orang tersebut hendaklah Anda mendahului menyapa dan mengucapkan salam agar pertemuan yang pertama tidak hilang dengan sia-sia.
 
Memanggilnya dengan Panggilan yang Paling Disukai
Pada zaman ini banyak orang menggunakan nama-nama aneh yang hanya asal ucap saja. Lebih aneh lagi banyak orang merasa bangga jika menyandang nama-nama itu, sehinggga jika ada orang yang memanggilnya dengan menggunakan nama aslinya maka ia akan marah.
 
Tatkala kita sudah menjadi umat Muhammad saw., kita mempunyai kewajiban agar memanggil orang lain dengan panggilan yang ia sukai, karena hal itu dapat mempererat hubungan kita dengan orang tersebut.
 
Memberikan Tempat Duduk dalam Satu Majelis
Anda diundang ke walimahan atau sedang takziyah. Tatkala Anda masuk ke ruangan yang disediakan dan Anda menjumpai bahwa ruangan itu sudah penuh, tentunya Anda akan malu, bingung, serta salah tingkah.
 
Jika pada saat itu ada di antara hadirin yang berada dalam ruangan tersebut yang bangkit dan mempersila-kan Anda untuk duduk di tempatnya, tentunya Anda akan merasa lega, dan kebaikan orang tersebut tidak akan terlupakan.
 
Berjabat Tangan
Berjabat tangan bukan sekedar gerakan tangan yang diwarisi secara turuntemurun, tetapi mempunyai makna dan rasa yang dipengaruhi oleh perbedaan hubungan dan kehendak. Oleh karena itulah, Islam melarang laki-laki menjabat tangan perempuan yang bukan muhrimnya.
 
Tangan adalah alat yang sangat peka. la dapat menerima dan mengirim isyarat-isyarat yang tampak pada wajah atau yang tersimpan dalam hati. Berjabat tangan dapat mengukur jarak antara dua hati. Ada orang yang berjabat tangan hanya untuk basa-basi, ada pula orang yang berjabat tangan hanya sekedar menyentuh. Ada orang yang berjabat tangan, sementara wajahnya tidak mengarah  pada orang yang di hadapan-nya, ada pula orang yang berjabat tangan disertai dengan tatapan mata yang sejuk.
 
Berjabat tangan dapat menghapus dosa-dosa. Diriwa-yatkan dari Al-Barra' ra., ia berkata, Rasulullah saw. ber-sabda, "Tidaklah seorang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, kecuali bagi mereka ampunan sebelum mereka berpisah." Balaslah Keburukan dengan Kebaikan
 
Sarana-Sarana Pembuka Hati
Sarana-sarana untuk membuka hati mad'u sangatlah banyak. Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik amal perbuatan adalah membuat orang muslim lainnya merasagembira, atau meringankan kesu-itannya, atau membayarkan hutangnya, atau memberinya makan."

(Bagaimana Menyentuh Hati-Abbas As-Siisi) 

Tegar Di Jalan Dakwah

Problematika Internal Aktivis Dakwah
Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan. Bahkan jalan dakwah penuh kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivis dakwah, agar ia bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di perjalanan.

Di dalam diri setiap manusia ada potensi-potensi yang mengarahkan kepada kebaikan, namun ada pula potensi yang membawanya kepada keburukan. Dengan demikian, tergantung dari masing-masing manusia dalam mengalokasikan potensi tersebut. 

Tawazun atau keseimabangan merupakan asas kehidupan. Tata kehidupan ini secara keseluruhan telah Allah ciptakan secara seimbang dan teratur. Jika terjadi ketidakseimbangan, pasti akan melahirkan ketidakbaikan. Ketidakseimabangan merupakan gejala yang melawan fitrah kehidupan, maka pasti menimbulkan kerusakan.
Ada beberapa bentuk ketidakseimbangan yang bisa terjadi dalam kehidupan aktivis dakwah, di antaranya:
1.      Ketidakseimbangan anatara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan
2.      Ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga
3.      Ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi
4.      Ketidakseimbangan antara Amal tarbawi dengan amal siyasi
5.      Ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM
 
Penyebab ketidakseimbangan
1.      Pola kerja infiradiyah (single fighter)
2.      Lemahnya perasaan mas’uliyah
3.      Kesalahan cara pandang
4.      Kesalahan dalam membuat perhitungan
5.      Pembagian tugas yang buruk

Bagusnya latar belakang dan masa lalu yang dimiliki seorang aktivis dakwah merupakan modal yang mendukung suksesnya perjuangan di medan dakwah. Jika para aktivis dakwah tidak memiliki latar belakang kehidupan masa lalu yang baik, ada beberapa permasalahan yang bisa muncul oleh karenannya. Ada kalanya seseorang senantiasa dikaitkan dengan masa lalunya yang buruk, padahal boleh jadi orang itu sudah berubah total dari kondisi semula. Ada kalanya seorang aktivis dakwah memiliki latar belakang keluarga yang tidak baik, lantas membuatnya tetekan dalam kondisi itu.

Problematika Eksternal Aktivis Dakwah
Dalam bingkai keindonesiaan, selain permasalahan-permasalahan global tersebut terdapat pula sejumlah permasalahan lokal. Di antara problematika dalam dakwah di Indonesia saat ini adalah hal-hal yang menyangkut aspek spiritual dan kultural.
1.      Berhala-berhala modern
2.      Syirik, khurafat, dan takhayul di era teknologi
3.      Globalisasi dan dialektika kultural
4.      Tradisi dan perkembangan
 
Problematika moral
1.      Mabuk dan penyalahgunaan obat-obatan
2.      Penyelewengan seksual
3.      Perjudian dan penipuan
4.      Tindak brutal dan kekerasan
 
Problematika sistemik
1.      Korupsi, kolusi dan nepotisme
2.      Kemiskinan
3.      Kebodohan
4.      Disintegrasi bangsa

Daya Tahan Di Medan Dakwah
Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah agar mampu konsisten berjuang di jalan Allah, sepanjang hidupnya. Lima faktor jalan untuk merealisir daya tahan di medan dakwah, yaitu:
1.      Menguatkan dan membersihkan motivasi
2.      Menggapai derajat iman
3.      Menggandakan kesabaran
4.      Kekuatan ukhuwah
5.      Dukungan soliditas struktur

1.  Menguatkan dan membersihkan motivasi
Daya tahab dalam lapangan dakwah sangat dipengaruhi oleh kekuatan dan kelurusan motivasi. Bersihnya motivasi karena Allah akan menyebabkan para aktivis tidak memiliki ambisi-ambisi duniawi. Merka akan berkonsentrasi mengharap balasan dari Allah atas segala yang telah dan akan dilakukan, tidak terpengaruh semangatnya oleh karena mendapatkan jabatan, kedudukan, harta, atau tidak mendapatkan sama sekali balasan keduniaan.

2.  Menggapai derajat iman
Tiada pilihan lainbagi setiap muslim kecuali harus senantiasa memperbaiki kulaitas keimanan serta memperkukuhnya. Tentu para aktivis dakwah harus segera melaksanakan koreksi ke dalam dirinya sendiri, sejauh mana keimanan telah terealisasi di dalam kehidupannya, yang dengan itu mereka berhak mengharap janji-janji Allah.

3.  Menggandakan kesabaran
Tabiat jalan dakwah yang sedemikian panjang dan banyak rintangan memang mengharuskan setiap aktivis dakwah mengenakan pakaian kesabaran yang berlipat. Medan dakwah tak mungkin ditempuh oleh orang yang tak memiliki kesabaran. Bahkan seringkali hadirnya orang tak sabar dalam tatanan dakwah, lebih banyak membuka celah yang bisa membahayakan dakwah secara umum.

4.  Kekuatan ukhuwah
Karena landasan persaudaraan adalah akidah maka ukhuwah bisa kukuh berdiri. Persamaan akidah akan membawa kepada persamaan pandangan hidup dan orientasi perjuangan. Dengan itulah ukhuwah tegak berdiri di atas kebersihan akidah, menjalin hati-hati mereka yang satu akidah, sekaligus membuat distansi dengan orang yang berlainan akidah.

5.  Dukungan soliditas struktur
Gerakan dakwah yang solid akan memberikan dukungan sangat besar bagi setiap aktivis untuk memiliki daya tahan di dalam perjuangan. Solidnya struktur gerakan dakwah akan menimbulkan Susana nyaman dan melegakan semua aktivis. Suasana kerja menjadi sangat kondusif dan terbantu karena adanya kekukuhan struktur.

Yang Tegar Di Jalan Dakwah
Jika ada aktivis dakwah yang dicaci maki banyak kalangan, difitnah dengan tuduhan keji, dilukai tubuhnya, ditangkap, dan dipenjara, diusir dari tanah kelahiran, dibunuh karakternya disebabkan oleh dakwah yang dilakukan, hendaklah senantiasa bersikap sabar. Sesungguhnya seluruh mihnah itu merupakan bagian tanda kecintaan Allah untuk mentarbiyah para aktivis dakwah, agar mereka semakin dewasa dalam melangkah dan lebih membersihkan mereka dari anasir-anasir yang tidak diperlukan dalam dakwah.