Saudaraku yang kucintai,
Ingin sekali rasanya kebersamaan ini tak pernah berakhir.
Ingin sekali rasanya iringan langkah kita tak pernah putus.
Terus bersama dan beriring.
Kita bahkan, selalu berharap agar Allah berkenan memasukkan kita ke dalam surga-Nya, bersama pula.
Saudaraku, begitulah ungkapan yang muncul kala kita menjalin pertemanan, persahabatan, persaudaraan karena Allah Swt. Kita telah mengawalinya dengan keimanan, dan keimanan itu harusnya tetap memelihara kita sampai kehidupan abadi di akhirat.
Saudaraku,
Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Mungkin kita sudah terlalu hafal dengan perkataan bahwa kehidupan ini merupakan ladang bagi akhirat. Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa hidup ini tak lain merupakan tempat ujian. Tempat menanam, menyemai, tempat bekerja, dan berjuang. Ia hanya persinggahan, sama sekali bukan akhir dari perjalanan. Atau dalam ungkapan Dr. Abdullah Azzam, tokoh legendaris jihad yang mati syahid di bumi Afghanistan : “Hidup ini adalah jihad. Dan umat ini tidak akan hidup kecuali dengan jihad.”
Saudaraku, jangan putuskan bait-bait doa kepada Allah agar tetap mengikat hati kita. Sepanjang kebersamaan ini, mungkin sudah banyak amal yang kita lakukan. Di antara kita banyak yang sudah mengalami letih, lelah, meneteskan peluh dan bahkan terluka, untuk sebuah kebaikan. Di antara kita juga, tak sedikit yang berlinang air mata untuk sebuah keyakinan. Mungkin kita merasa, telah mengukir dan menghiasi amal kita sebaik-baiknya untuk Allah swt. Ikhlas, bersih, tak ada tendensi. Tapi saudaraku, hati-hatilah. “Berapa banyak lentera yang mati tertiup angin. Berapa banyak amal ibadah yang dirusak pelakunya sendiri...” begitulah nasihat Muhammad Ahmad Rasyid dalam Al Awa-iq.
Perhatikan perlahan-lahan, apa yang diungkapkan Fudhail bin Iyadh, tokoh salafushalih zaman Tabi’in, kepada mereka yang telah beribadah dan beramal shalih. “Iblis akan unggul atas manusia bila berhasil memunculkan salah satu dari tiga sifat yaitu: Kekaguman (ujub) kepada diri sendiri, melebih-lebihkan amal sendiri, dan kelupaan atas dosa-dosa yang dilakukan.”
Itulah tiga panah syetan untuk orang-orang yang beramal. Semuanya berawal dari rasa ujub, bangga atau kagum pada diri sendiri. Renungkanlah, saudaraku... Kita bisa saja mengatakan, “saya tidak ujub dengan amal-amal yang saya lakukan, saya tidak melebihkan amal yang saya lakukan, saya selalu berusaha mengingat-ingat dosa-dosa saya...” Tapi begitupun, jangan lengah. Karena semua itu belum menandakan jika kita selamat dari perangkap ujub yang lain. Para salafushalih yang mengerti tentang tabiat dan kecenderungan hati, tidak menghentikan pembahasan ujub sampai disini, ada banyak anak panah syetan yang harus diwaspadai.
Dalam sekali makna yang terkandung dari nasihat Sofyan Tsauri rahimahullah yang mengingatkan kita tentang hal ini. Ia mengatakan “Kalau engkau tidak ujub dengan dirimu, engkau mungkin saja senang dengan orang yang memujimu dan mungkin juga senang bila dengan pujian itu orang-orang memuliakanmu dengan amalmu. Mereka melihat dirimu mulia dan engkau memiliki tempat tersendiri di hati mereka...
Saudaraku,
Senang dengan pujian. Itulah yang dimaksud dengan nasihat Sofyan Tsauri. Inilah anak panah syetan berikutnya yang bisa merusak amal kita. Dan sedihnya, jarang orang yang bisa selamat dari bidikan syetan ini. Karena itu, Fudhail bin Iyadh memiliki pandangan tajam untuk menimbang dan menyikapi masalah ini. Ia mengatakan, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kemunafikan adalah jika seseorang menyukai pujian yang tidak ada pada dirinya. Kemudian ia membenci orang yang tidak menyukai dirinya karena sesuatu yang memang ada pada dirinya. Sementara, ia juga membenci orang-orang yang mengetahui aib-aibnya.. .”
Fudhail bin Iyadh sendiri, sangat berhati-hati soal pujian. Sampai-sampai diriwayatkan, andai Fudhail mendengar ada orang yang memujinya, kondisinya segera berubah menjadi aneh, nafasnya tersengal dan lisannya mengeluarkan kalimat-kalimat yang mencaci dirinya...
Saudaraku,
Panah ujub tak menancap hanya sampai disini. Mungkin saja seseorang tidak ujub pada dirinya, dan tidak suka dengan pujian, tapi ada celah lain yang bisa menjerumuskannya dalam penyakit ujub. Apa itu? “Siapa yang mencaci dirinya sendiri di hadapan orang lain, sesungguhnya dia itu alamat riya,” Begitu kata Hasan Al Bashri. Itu juga termasuk bagian dari ujub, yang kerap tidak disadari oleh pelakunya. Berniat untuk merendahkan diri, tapi yang terjadi syetan justru membalik keadaannya menjadi ujub. Ada panah ujub yang lainnya, yakni jika kita cenderung senang bila mendapatkan orang lain melakukan kesalahan. Seperti diingatkan oleh Fudhail, “Di antara alamat munafik adalah bila seseorang senang mendengar kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan orang lain.” Ini yang paling aneh dan paling sulit terdeteksi.
Saudaraku, renungkanlah
Sesungguhnya Allah sudah terlalu banyak menutupi kekeliruan, keterpelesetan, kesalahan dan aib kita. Itu nikmat Allah yang harus kita syukuri. Dari sanalah kita bisa mengendalikan rasa kagum pada diri sendiri, mampu menyikapi pujian, tidak senang mendengar kekurangan orang lain dan semacamnya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disindir Khalid bin Shafwan,” Ada orang yang tertipu karena Allah menutupi aib-aibnya dari orang lain. Ada juga orang yang tertipu oleh baiknya pujian.” Khalid menambahkan, “Jangan engkau terkalahkan oleh ketidaktahuan orang lain terhadap dirimu yang kemudian memujimu, sementara engkau sangat mengetahui kondisimu sendiri.” (Ahmad Rasyid, Al Wa-iq, 52)
Saudaraku,
Cukuplah hanya Allah yang mengetahui dan mengenal perbuatan baik yang kita lakukan. Seseorang bisa saja, mendapat nilai seratus dari manusia, namun sesungguhnya ia tak memiliki nilai apa-apa di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang bisa saja mendapat nilai seratus di sisi Allah, namun ia seperti tak memiliki nilai apapun di hadapan manusia.
Simaklah sebuah kisah dari seoarng tabi’in yang hidup di zaman Umar,
Ibnu Auf Ahmasi. ”Ketika saya berada di hadapan Umar Bin Khattab, datanglah seorang utusan dari Nu’man bin Maqran, salah seorang komandan perang Nahawand. Ia melaporkan nama-nama kaum muslimin yang gugur di medan perang Nahawand. Ia menyebutkan nama mereka satu per satu...fulan. ..fulan.. .fulan dan seterusnya. Kemudian utusan itu mengatakan , “Selain itu, kami tidak mengenal nama-nama mereka...” Saat itu Umar segera mengatakan, ”Akan tetapi Allah pasti mengenal mereka”. Dalam lafadz yang lain disebutkan perkataan Umar, “Akan tetapi Yang Memuliakan mereka dengan syahadah, pasti mengenali wajah dan keturunan mereka.” (Al Kharaj, Abi yusuf, 35)
Camkanlah, saudaraku, cukup hanya Allah yang paling berhak menilai dan menghitung amal kita...
Sumber : Tarbawi Press “Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar