Jumat, 04 November 2011

Festival Islam UNJ

Jeratan Syeitan

Tujuh jeratan syeitan

  1. Pintu kekafiran
  2. Bid'ah
  3. Dosa-dosa besar
  4. Dosa-dosa kecil
  5. Perbuatan mubah yang melalaikan ibadah
  6. Menyibukkan dengan perkara fadhilah
  7. Penyiksaan terhadap musuh-musuh Islam

Jumat, 21 Oktober 2011

Lelah, Teramat Lelah

Islamedia - Lelah. Mata ini lelah. Selalu terjaga, takut tertidur dan lengah. Jangan, jangan pejamkan mata, karena tugasmu berjaga.

Tengah malam gelap gulita, mata ini masih terjaga. Berkhalwat khusyuk di kesunyian, munajat kepada Dia Yang Maha Perkasa. Memohon kekuatan, kemampuan, keteguhan, ketegaran, dalam perjalanan dakwah yang amat panjang tak terkira.

Pagi-pagi buta, mata ini tetap terjaga, jangan sampai umat terlanda bahaya dan bencana pada saat kita lengah menjaga mereka. Siang terang benderang, mata ini selalu terjaga, melakukan hal terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Lelah. Pikiran ini sangat lelah. Tak pernah berhenti mencerna ayat-ayat yang dibentangkanNya di alam semesta. Selalu berpikir, selalu menganalisa peristiwa, selalu merangkai kejadian di depan mata. Merancang strategi, taktik, upaya, cara dan sarana. Memetakan potensi para aktivis yang selalu setia bekerja dimanapun mereka berada. Memetakan jalan bagi kemenangan perjuangan, meretas kejayaan pergerakan. Memikirkan masa depan masyarakat, bangsa dan negara. Memikirkan rencana strategis, membangun peradaban masa depan yang gilang gemilang.

Lelah. Jiwa ini sungguh lelah. Setiap hari disuguhi konflik, kerusuhan, permusuhan, penyimpangan, dan penyelewengan dimana-mana. Setiap saat dihadapkan pada persoalan-persoalan kehidupan yang kian kompleks dan kian merata. Satu persoalan bangsa belum selesai diurai, muncul persoalan berikutnya. Satu konflik belum selesai dilerai, muncul konflik di tempat lainnya. Satu kasus belum selesai diungkapkan kebenarannya, telah menyusul kasus-kasus sekian banyaknya. Persoalan internal bertumpuk, pada saat yang sama harus tampil tegar menghadapi persoalan eksternal. Persoalan keluarga mengemuka, pada saat harus menyelesaikan persoalan bangsa dan negara.

Lelah. Tubuh ini teramat lelah. Tubuh yang jarang dipenuhi hak-haknya. Kapan sempat olah raga, kapan sempat refresing dengan keluarga, kapan sempat bercengkerama dalam suasana luang, kapan sempat istirahat. Teramat sering para aktivis diistirahatkan oleh Tuhan Yang Maha Penyayang, karena dirinya tidak sempat beristirahat. Tubuh kian lemah, karena dipaksa terus bekerja, melakukan hal terbaik yang bisa dikontribusikan di jalan kebaikan. Terlalu sering tidak sempat memenuhi hak-hak tubuh, sementara ia harus selalu bekerja pagi, siang, sore dan malam. Terlalu sering tubuh dipaksa melakukan kerja di luar batas kesanggupannya, karena sangat ingin memenuhi kewajiban di jalan perjuangan.

Lelah. Kaki ini tak terperikan lelahnya. Menyusuri jalan terjal mendaki, berliku, penuh duri dan bebatuan keras. Jalan ini harus ditempuh, karena hanya ini yang akan membawa mencapai tujuan. Tak ada jalan lain, tak ada jalan pintas. Kaki yang tak pernah berhenti melangkah, menapaki jalan Kenabian, menapaki jalan para pejuang, menapaki jalan para pahlawan. Menapaki jalan yang akan membawa umat kepada peradaban mulia.

Lelah. Tangan ini sangatlah lelah. Melakukan kerja-kerja sosial, membaktikan karya bagi umat, menciptakan prestasi untuk negeri. Tangan ini selalu peduli, berbagi, memberi, dan berkontribusi. Tangan yang selalu kreatif menorehkan kerja nyata bagi masyarakat. Tangan yang selalu bermanfaat untuk membantu yang lemah, menolong yang resah, merangkul yang gelisah. Tangan yang selalu terbuka untuk menampung berbagai keluh kesah, dan siap memberikan bantuan bagi yang memerlukan.

Lelah. Diri ini teramat lelah. Semua potensi diri telah disumbangkan untuk melakukan yang terbaik. Terus bekerja, terus berkarya, terus berbuat untuk kejayaan Indonesia. Namun yang kita dapatkan adalah cemoohan. Sering yang kita dapatkan adalah caci maki dan sumpah serapah. Tak jarang yang kita temui adalah lontaran kebencian dan permusuhan. Lelah, rasanya telah habis semua tenaga, tak ada lagi yang tersisa, kendati kerja belum usai, belum juga tampak hasilnya.

Lelah. Di titik inilah kebahagiaan membuncah. Pada puncak kelelahan inilah kenikmatan benar-benar kita rasakan bak bunga merekah. Usapan lembut ayat-ayat Qur’an, “Jika kamu mendapatkan luka, maka sesungguhnya merekapun mendapatkan luka yang sama”, terasa masuk ke relung jiwa. Sangat dalam, dan sangat berkesan.

Sangat sejuk ungkapanNya sampai ke dalam dasar samudera jiwa, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Bukan hanya kamu yang lelah. Jangan GR. Mereka juga lelah, semua juga lelah. Tetapi, apakah kelelahanmu di jalan kebenaran ? Apakah lelahmu di jalan Kenabian ? Apakah lelahmu di jalan Tuhan Yang Penyayang ?

Jika lelahmu di jalan Tuhan, masih adakah artinya menghitung jumlah lelah ? Masih perlukah mengeluhkan kelelahan ? Masih adakah keperluanmu membuat perhitungan dengan kelelahan ?

Oleh : Cahyadi Takariawan
Rabu, 19 Oktober 2011, 23:30wib
Usai Rapat di Markaz Dakwah

Senin, 26 September 2011

Dahulu Mereka Adalah Rijal, Kini Menjadi Buih

Oleh : Ustadz. Farid Nu'man
Islamedia - Sungguh, da’wah ini tidak akan mengalami kerugian sama sekali dengan adanya da’i yang insilakh (ter-eksitasi). Sebab, Allah Jalla wa ‘Ala Maha Berkuasa Atas Segalanya, akan menggantikan mereka dengan kaum yang lebih baik, kaum yang siap berjihad fisabilillah, dengan harta dan jiwanya. Janganlah mereka mengira, absennya mereka dari da’wah membuat da’wah goncang dan merasa kehilangan. Masih banyak abna’ul islam yang antri untuk memperjuangkan agama ini, dan meninggikan panji-panjinya. Untuk itu adalah hal yang mudah bagi Allah Jalla wa ‘Ala.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat at Taubah (9):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

إِلَّا تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


38. Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.

39. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya menjelaskan, bahwa ayat di atas, tidak ada perbedaan pendapat, turun ketika perang Tabuk tahun ke 9 setelah hijrah, ketika banyak manusia yang menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk berangkat ke Tabuk. Pada ayat 38 kalimat tanya, ‘Apakah sebabnya jika dikatakan kepadamu’ merupakan pengingkaran dan celaan (lil inkar wat tawbikh) atas perilaku mereka yaitu ayyu syai’ yamna’ukum min dzalik, apa yang menghalangi kalian untuk berangkat (an nafr). An Nafr adalah bertolak secara cepat dari satu tempat ke tempat lain karena adanya perintah. Apakah halangan itu adalah kenikmatan dunia? (dalam kitab lain disebut bahwa saat itu sedang musim panen kurma) Padahal ia tidak seberapa dibanding kenikmatan akhirat yang abadi.

Ayat 39, kalimat Illa tanfiruu (jika kamu tidak berangkat untuk berperang), ini merupakan peringatan yang keras, dan ancaman yang amat serius atas orang-orang yang tidak mau an nafr (berangkat jihad) ke Tabuk bersama Rasulullah Shailallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yu’adzdzibukum ‘adzaaban aliima artinya kalian akan dibinasakan dengan adzab yang keras dan menyakitkan. Ada yang mengatakan di dunia saja, ada pula yang mengatakan lebih dari itu.

Wa yastabdil qauman ghairakum artinya Allah Jalla wa ‘Ala akan jadikan untuk RasulNya pengganti kalian dari kalangan orang-orang yang tidak santai dan menunda-nunda memenuhi panggilannya. Siapakah kaum itu? Ada yang mengatakan penduduk Yaman, ada pula yang menyebut Persia, namun tak ada keterangan spesifik tentang ini. FirmanNya: Wa laa tadhurruu hu syai’a (dan kamu tidaklah memberi kemudharatan kepadaNya sedikit pun), masih berkait dengan yastabdil (diganti), adapun dhamir (kata ganti orang/pronomina) hu disebutkan untuk Allah, dan ada juga pendapat menyebutkan hu tersebut untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Jadi maknanya: Sama sekali tidak memudharatkan Allah jika kalian meninggalkan perintah untuk an nafr (berangkat jihad), dan sama sekali tidak merugikan RasulNya jika kalian tidak menolongnya dengan an nafr bersamanya. FirmanNya: Wallahu ‘ala kulli syai’in qadiir (Allah Maha Kuasa atas Segala sesuatu) maksudnya diantara kekuasaanNya adalah Dia mengadzabkan kalian dan mengganti kalian dengan kaum yang lain. Sampai di sini dari Imam Asy Syaukani.

Demikianlah, Allah Jalla wa ‘Ala sangat mampu membuat rijal-rijal baru untuk menggantikan yang lama yang telah menjadi buih. Buih benda yang amat ringan dan mudah terombang ambing. Tentunya, sudah tidak berharga.

Bagaimana Rijal yang Dimaksud?

Siapa dan bagaimana rijal yang diinginkan? Apakah sekedar laki-laki sesuai dengan makna bahasanya? Tidak! Rijal di sini adalah rijal yang digambarkan oleh Al Qur’an, bahkan bukan monopoli kaum laki-laki, sebab secara nilai dan esensi bisa saja kaum wanita lebih ‘rijal’ (baca: pejuang) dari laki-laki.

Inilah Rijal itu

1. Menepati janjinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk mati syahid

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al Ahzab (33):

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا


23. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),

Ayat ini turun lantaran tekad seorang sahabat yakni Anas bin an Nadhar Radhiallahu ‘Anhu yang luput darinya perang Badr, sehingga ia tidak bisa jihad bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat itu, ia berjanji akan ikut menemani jihad Rasulullah di Uhud, ketika terjadi peperangan ia terbunuh dengan tujuh puluh luka tombakan, lalu turunlah ayat di atas (HR. Muslim)

Kekuatan untuk menepati janji inilah yang menyebabkan Anas bin An-Nadhr ra (paman Anas bin Malik ra) membuktikan respon spontan kepada Sa’ad bin Mu’adz ra tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di perang Uhud dengan ucapannya:

يا سعد، الجنة.. إني لأجد ريحها من دون أحد

Ya Sa’ad ! Surga… aku mencium baunya di bawah bukit Uhud..

Kemudian beliau maju menjemput syahid sehingga jenazahnya tidak dapat dikenali kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya (Muttafaq ‘alaih - Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits no 1317).

Rijal seperti ini tidak bisa diam walau sejenak, ia selalu bergerak bersama da’wah atau para da’inya. Ia sedih jika tidak bersama mereka, menangis jika ketinggalan qafilah da’wah.

2. Berjiwa Pemimpin


Inilah ciri rijalud da’wah selanjutnya. Bermental pemimpin; cerdas, kuat, terjaga, amanah, dewasa, bertanggung jawab, siap menerima kritik, adil, melindungi dan mengayomi. Walau sewaktu-waktu ia harus siap menjadi prajurit, tanpa merasa direndahkan sebagaimana Saifullah al Maslul (pedang Allah yang terhunus) Khalid bin Walid Radhiallahu ‘Anhu.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat An Nisa’(4):

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

34. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...

Ayat ini merupakan ayat yang sharih (jelas) bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita, bukan hanya di rumah tangga tetapi juga dalam jamaah da’wah dan negara. Sebagian kaum rasionalis liberal mengatakan bahwa ayat ini hanya menunjukkan bahwa kepemimpinan laki-laki hanya pada rumah tangga. Ini pemahaman yang perlu dikoreksi. Dalam ushul fiqih ada istilah qiyas aula, contohnya, Allah ‘Azza wa Jalla melarang keras seorang anak berkata ‘uh’ terhadap kedua orang tuanya, nah jika ‘uh’ dilarang keras apalagi lebih dari itu seperti menganiaya secara fisik. Begitu pula dalam masalah ini, jika wanita bukanlah pemimpin di rumah tangga, apalagi yang lebih tinggi dan kompleks dari itu seperti Negara.

Namun, tidak bisa dipungkiri, tidak sedikit lelaki yang bukan rijal! Ia lebih lembek dari tahu, dan lebih lunak dari keong siput. Ini menjadi berita duka cita bagi kaum laki-laki. Juga tidak dipungkiri,,tidak sedikit wanita kuat bermental baja dan bernyali singa. Merekalah mujahidah yang di tangannya lahir singa-singa da’wah dan jihad seperti Kamaluddin as Sananiry, Marwan Hadid, Said Hawwa, ‘Imad ‘Aqil, Muhammad Fathi Farhat, ‘Abdullah ‘Azzam, dan lain-lain. Merugilah para ibu yang tidak mampu membentuk pribadi-pribadi seperti mereka. walau Anda bukan pemimpin, tetapi di tangan Andalah lahirnya para pemimpin dan pahlawan.

3. Selalu Berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Rijalud Da’wah, sesibuk apapun, tidak akan lepas darinya dzikir kepada Allah, baik lisan atau hati, baik sendiri atau kermaian, baik lengang atau sibuk. Berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan manifestasi dari mahabbatullah, sebab katsratudz dzikri (banyak mengingat) merupakan salah satu ‘alamat (tanda) jatuh cinta kepada Allah Ta’ala. Lebih dari itu, karena rijalud da’wah mengerti betapa dahsyatnya hari pembalasan itu.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat An Nur (24):

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

37. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya mengatakan: Inilah sifat rijal, kesibukkan mereka dalam perniagaan dan jual beli tidaklah melalaikan mereka dari mengingat Allah. Dikhususkannya perniagaan karena itu adalah kesibukkan yang paling besar bagi manusia. Ada pun perbedaan antara at tijaarah (perniagaan) dan al bai’(jul beli), adalah kalau at tijaarah aktifitas dagang bagi musafir, sedang al bai’ aktifitas dagang bagi yang mukim, sebagaimana yang dikatakan Imam al Waqidy.

Syahidul Islam, Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata dalam sepuluh wasiatnya: Qum ilash shalah mataa sami’ta an nidaa’ mahma takunuzh zhuruf (dirikanlah shalat ketika engkau mendengar panggilannya, bagaimanapun keadaanmu).(Risalatut Ta’alim wal Usar, hal. 39. Darut Tauzi’ lith thiba’ah al Islamiyah, 1984)

Responnya cepat terhadap hak ibadah seperti; tepat waktu, menjaga adab-adab dan rutinitasnya. Sehingga ia menjadi contoh bagi orang yang berinteraksi dengannya. Tanpa ia berda’wah secara lisan (lisanul maqal) pun, manusia sudah bisa merasakan ajakan kebaikan melalui perilakunya (lisanul haal).

4. Memakmurkan Mesjid

Aktifitas Rijalud Da’wah selalu terpaut dengan mesjid, bukan semata-mata badannya, tetapi hati dan akhlaknya. Di mana ia berada, tidak pernah menanggalkan akhlak mesjid, yaitu taqwa.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari akhir nanti, diantaranya): ……… Rajulun qalbuhu mu’llaqatun fil masjid (seseorang yang hatinya terpaut dengan mesjid) (HR. Muttafaq ‘Alaih. Riyadhus Shalihin, hadits no. 376)

Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin jabal Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda: “Bertaqwallah kalian di mana saja berada, dan ikutilah berbuatan buruk kalian dengan perbuatan baik, nicaya(kebaikan) itu akan menghapuskan keburukan, dan bergaul-lah dengan manusia dengan akhlak yang baik” (HR. At Tirmidzi, katanya hasan, dalam naskah lain hasan shahih, Arbai’n an Nawawi, hadits no. 18)

Allah Ta’ala berfirman dalam surat At Taubah (9):

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ


108. Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu (mesjid dhirar) selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang (rijal) yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Itulah karakter rijalud da’wah; shidq terhadap janji untuk mati syahid, berjiwa pemimpin, banyak berdzikir dan terpaut dengan mesjid. Namun, tidak sedikit orang-orang yang dahulunya rijal, sekarang hilang dari peredaran, jangankan da’wah, shalat berjamaah di mesjid pun tidak. Sibuk dengan urusan dunia, mengumpulkan harta, mengejar target hidup yang tak pernah habis, bahkan justru berbalik menyerang da’wah.

Kebersamaan dengan mereka kini tinggal kenangan saja. Dahulu menangis bersama, daurah, muzhaharah, syura, juga bersama, kini? Dimana kau saudaraku?

Bisa jadi, di antara mereka merupakan mu’assis (perintis) da’wah. Dialah yang membuka ladang da’wah pertama kali di tempatnya, dialah yang membangunkan manusia dari tidurnya, dialah yang merekrut banyak mujahid muda, namun kini, di mana kau saudaraku?

Semoga Allah tidak menyia-nyiakan amalmu yang bermanfaat, sebab yang bermanfaat akan tetap tinggal di bumi, adapun buih pasti akan lenyap. Renungkanlah ayat ini:


أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. Ar Ra’du (13): 17)
Wallahu waliyyut taufiq

Rabu, 07 September 2011

Benarkah Kita Kader Dakwah?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.
Jadi, benarkah kita kader dakwah ?

Sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1105

Qana'ah-kah Kita?

Oleh: Ust. Samson Rahman

Islamedia - Rakus dan tamak adalah penyakit kronis yang bisa menghancurkan seseorang, membelenggu mereka dari berbuat kebaikan dan mendorong mereka terjungkal dalam perbuatan nista dan durjana. Penyakit tamak adalah penyakit yang bisa diobati dengan resep manjur berupa syukur nikmat dan qanaah atas karunia Sang Maha Pemberi.

Orang-orang yang tamak dan rakus adalah mereka yang tidak menyadari bahwa dunia ini bersifat fana dan cepat berlalu. Dunia menjanjikan keabadian namun dia akan segera ingkar janji. Manusia melihatnya dia diam tiada gerak namun sebenarnya dia bergerak demikian cepat menuju kesirnaan. Namun yang melihatnya tidak merasa gerakannya yang demikian cepat menuju ujung kebinasaan. Dunia ini, sebagaimana dikatakan Hasan Al-Bashri, laksana mimpi-mimpi dalam tidur atau sebagaimana bayang-bayang yang segera lenyap, namun orang-orang yang cerdas tidak akan pernah tertipu dengannya.

Rasulullah bersabda : Apa urusanku dengan dunia. Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia ini bagaikan seseorang yang berjalan di musim yang panas yang sangat menyengat, kemudian dia bernaung di bawah naungan daunnya dalam beberapa waktu kemudian dia pergi dan meninggalkannya untuk selamanya (HR. Tirmidzi).

Maka sepantasnya bagi kita untuk bekerja sebaik-baiknya dan tidak terbuai dengan angan yang terus memanjang yang menjadikan kita lupa, dan jangan pula kita condong overdosis pada dunia karena dia akan menipu kita. Dia akan menampilkan seluruh pesonanya agar kita terlena, mabuk dalam jerat-jeratnya dan membuat hati terperangkat di dalamnya apabila jiwa kita menikmatinya. Maka marilah kita melihat dengan mata hati yang cerdas. Dunia itu tempat beramal kita, yang banyak uji cobanya, yang sering kali dicela manusia-manusia utama, karena mencintanya akan segera usai, kebaikannya hanya dinikmati terbatas, yang memilikinya juga akan meninggalkannya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayakan dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda : Ada tiga yang akan mengikuti mayit : keluarganya, harta dan amalnya. Dua yang pertama akan pulang meninggalkannya dan hanya tersisa hanya amalnya (HR. Bukhari Muslim).

Manusia serakah akan senantiasa menghitung-hitung dan mengkalkulasi harta yang dimilikinya dan mengira bahwa hartanya akan membuatnya terus abadi di dunia. Matahatinya buta dan gulita sehingga kesadaran intinya hilang bahwa harta dunia sifatnya sangatlah sementara.

Allah menggambarkan keadaan mereka : Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (Al-Humazah : 1-3). Dalam benak pencinta dunia yang rakus yang ada hanyalah harta dan harta, uang dan uang. Dia akan terus mengutip dari orang lain dengan tangan yang sulit terbuka untuk memberi pada sesama. Sifat kikirnya berurat dan berakar kuat, mendarah daging dan bahkan masuk ke tulang sumsumnya. Tangannya senantiasa menjadi tangan yang di bawah tak pernah naik levelnya.

Tidakkah mereka menyadari bahwa orang-orang yang cerdas itu bisa dilihat dari tiga sisa : Yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, dan membangun kuburnya sebelum dia memasukinya serta yang membuat Tuhannya ridha padanya sebelum dia bertemu dengan-Nya.

Ali bin Abi Thalib memberikan gambaran tentang dunia dengan indah dan gamblang : Sesungguhnya dunia adalah bahwa barang siapa yang merasa kurang di dalamnya maka dia akan dilanda kegundahan, dan barang siapa yang merasa cukup dengannya maka dia akan banyak mendapat ujian, dalam halalnya ada hisab, dalam haramnya ada iqab (siksa) dan dalam mubahnya ada ‘itab (celaan).

Maka sungguh aneh manusia yang demikian ngoyo berburu dunia namun dia melupakan akhiratnya. Tidakkah dia tahu bahwa dunia akan ditinggalkan atau meninggalkannya.

Qana’ahlah dengan dunia niscaya hidup kita akan bahagia. Ukuran qana’ah kita adalah : Tidak terlalu bersuka cita dengan apa yang ada dan tidak berduka cita dengan yang hilang, baginya sama saja antara pujian dan hinaan, senantiasa merasa intim dengan Allah, terus meniti ketaatan pada-Nya, lezat berjumpa dengan-Nya. Antara cintanya pada Allah dan cintanya pada dunia bagaikan air dan udara. Demikian jauh bedanya.

Fudhail bin Iyadh pernah berkata : Rumah yang dihiasi cinta dunia akan menjadi rumah yang penuh keburukan dan rumah yang dihiasi zuhud pada dunia akan bertabur kebaikan.

Kita memang tidak anti dunia, namun overdosis mencintainya membuat kita pasti celaka!!.

Wallohu A'lam,

Senin, 15 Agustus 2011

Bulan Ramadhan, Stasiun Besar Musafir Iman

Oleh: KH. Rahmat Abdullah

Tak pernah air melawan qudrat yang Allah ciptakan untuknya, mencari dataran rendah menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim, dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun -dengan karakternya sebagai ciptaan Allah- menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi 'bumi jasad' memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala. Kini -di bulan ini- ia jadi begitu ringan, menjelajahi 'langit ruhani'. Carilah bulan -di luar Ramadhan- saat orang dapat menghatamkan tilawah satu, dua, tiga, sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan 'ular harta' yang membelitnya. Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.
Marhaban ya Syahra Ramadhan
Marhaban Syahra' Shiyami
Marhaban ya Syahra Ramadhan
Marhaban Syahra'l Qiyami




Keqariban di Tengah Keghariban
Ahli zaman kini mungki leluasa menertwakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya, "Ya Rasulullah, dekatkah Tuhan kita sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?" Sebagian kita telah begitu 'canggih' memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika 'beban-beban orang bertuhan' telah mereka persetankan. Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta di di sana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat, dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.
Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.
Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamua tentang Aku, maka (katakanlah): 'Sesungguhnya Aku ini dekat...' " [QS. Al-Baqarah (2): 185].
Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa keqariban ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa di depan publik, padahal beberapa manit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung ke bangkai-bangkai, menjadi babi yang rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tipu yang rakus.
Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antarmereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antarwarga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum, jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembubuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar'i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para poliitis bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hai tetap membatu? Berapa banyak korban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?


Nuzul Qur'an di Hira, Nuzul di Hati
Ketika pertama kali Alquran diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang dzalim. Kelak saatnya orang menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjad kacau. Ada juga yang berpikir, malam qadar itu selesai sudah karena Allah menyatakan dengan Anzalnaahu (Kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalul malaaikatu war ruuhu (pada malam itu turun menurunlah malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen. Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliputi semua kawasan?
Jadi ketika Ramadhan di Gua Hira itu malamnya disebut qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alquran di hati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari Sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat di kandung badan, seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya karena selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan di puncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambbu: Stop!


Alquran dulu, baru yang lain
Bacalah Alquran, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang, dan serasi. Alquran membentuk frame berpikir. Alquran mainstream perjuangan. Nilai-nilanya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penugasan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz'i, Pandakwahnya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.
Betapa dakwah Alquran dengan madrasah tahsin, tahfidz, dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan, jauh sejak awal sejarah umat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur'annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakkannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan di masa awal sekali, 'unjuk rasa' pertama digelar dengan pertanyaan 'Siapa yang berani membacakan surat Ar-Rahman di Ka'bah?'. Dan Ibnu Mas'ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.


Puasa: Dakwah, Tarbiyah, Jihad, dan Disiplin
Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadhann setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah dakwah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusanasaan atau kepanikan. Musuh-musuh umat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di tengah-tengah badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka umat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus diterik siang.
Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun, bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? "Faqidusy syai' la yu'thihi" (yang tak punya apa-apa tak akan mampu memberi apa-apa).
Wahyu pertama turun di Bulan Ramadhan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di Bulan Ramadhan dan futuh (kemenangan) juga di Bulan Ramadhan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadhan telah memproduksi begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.
Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadist-hadist, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius.
www.salimunj.com

Minggu, 17 Juli 2011

Berani Di Jalan Dakwah

Hidup adalah pilihan..
setiap orang pun berhak untuk memilih..
maka berada di jalan dakwah pun merupakan suatu pilihan..

Allah akan berikan kekuatan saat seseorang berani mengambil keputusan yang baik. Keberanian adalah kemuliaan
"  Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. " (QS.Huud ayat 112)

Pilar-pilar keberanian:
  • iman dengan yang ghaib
  • menaklukan rasa takut
  • mewariskan hal terbaik
  • bersabar dalam ketaatan
  • balasan dari Allah
Sifat yang harus dimiliki oleh aktivis dakwah:
  1. memiliki daya tahan yang besar
  2. berterusterang pada kebenaran
  3. kemampuan menjaga rahasia
  4. mengakui kesalahan
  5. bersikap objektif pada diri sendiri
  6. menahan nafsu saat marah
" Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzaliman yang kan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati..." (Izzatul Islam)


Senin, 13 Juni 2011

Menjadi Murabbiyah Sukses

Tarbiyah dapat dimaknai sebagai proses pembinaan diri dan umat menuju arahan ideal dalam Islam. Sebuah kontemplasi untuk menemukan makna dan hakikat kebajikan, sebuah proses penggalian nilai-nilai dasar kebenaran, keadilan, kearifan dalam hidup. 

Tarbiyah diarahakan Islam kepada kaum lelaki dan perempuan. Semua potensi kemanusiaan harus dilejitkan, dalam rangka untuk mendapatkan kinerja dakwah yang optimal. Ikhwan dan akhwat di berbagai penjuru dunia berlomba-lomba memperbaiki diri dan umat lewat tarbiyah, untuk mengisi peran-peran perubahan sesuai dengan bidang dan spesialisasi masing-masing.

Muslimah sebagai bagian dari masyarakat harus mendapat sentuhan tarbiyah yang sempurna, agar segala kebaikan dirinya akan membawa kontribusi kebaikan bagi masyarakat luas dan negara. Awal kehancuran peradaban bisa diawali oleh kehancuran kepribadian kaum perempuan, sebagaimana kejayaan sebuah peradaban diawali oleh kekokohan kepribadian kaum perempuan.

Mengapa Akhwat Perlu Tarbiyah
Urgensi Tarbiyah bagi Akhwat
Tarbiyah merupakan langkah efektif untuk menjaga kebaikan manusia, justru karena banyaknya faktor yang mempengaruhi kebaikan dirinya, baik secara internal maupun eksternal. Dengan demikian, melakukan tarbiyah adalah sebuah jalan untuk menjaga dan melipatkan kebaikan diri.
Beberapa urgensi tarbiyah pada kalangan akhwat diantaranya adalah :
1.      Keadilan taklif antara kewajiban lekaki dan perempuan
   Allah memberikan pembebanan (taklif) secara sama dan seimbang antara laki-laki dan perempuan.
2.      Menguatkan kecenderungan akhwat kepada kebaikan
3.      Antisipasi kondisi eksternal
4.      Mempersiapkan akhwat untuk mengemban peran peradaban
5.      Kekhususan kaum wanita
6.      Akhwat memerlukan kebersamaan

Menjadi Murabbiyah, Bisakah Ideal?
Sesungguhnya menjadi pembina tidaklah sulit. Yang diperlukan adalah hal-hal sebagai berikut:
a.      Kesediaan untuk berproses bersama dalam kebaikan sesuai mekanisme kejamaahan
b.      Kesediaan untuk berproses bersama kader untuk mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki
c.       Kesungguhan untuk mengelola proses pembinaan dalam bingkai system
d.      Kemauan yang kuat untuk senantiasa meningkatkan berbagai kapasitas diri
e.      Pemahaman akan visi, misi, tujuan, tahapan, metode serta sarana dalam pembinaan

Persiapan Menjadi Murabbiyah
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Anfal:60)

Persiapan yang diperlukan bagi murabbiyah:
1.      Siapkan mental
2.      Siapkan ilmu
3.      Siapkan spiritualitas
4.      Siapkan akhlak

Kemampuan khas murabbiyah
1.      Kemampuan berbahasa Arab
2.      Kemampuan berbahasa Indonesia
3.      Kemampuan menulis dengan huruf arab
4.      Kemampuan menulis dengan huruf latin
5.      Kemampuan berbicara
6.      Kemampuan beretorika
7.      Kemampuan mendengarkan pembicaraan
8.      Kemampuan menyegarkan suasana
9.      Kemampuan komunikasi
10.  Kemampuan bercerita
11.  Kemampuan memimpin forum
12.  Kemampuan merespon dan menyelesaikan masalah

Jangan pernah lakukan pada mutarabbi
1.      Bersikap kaku apalagi kasar
2.      Melupakan nama
3.      Memotong pembicaraan
4.      Menegur langsung di hadapan yang lain
5.      Tidak mau menyempatkan mendengar curhat
6.      Tidak memberikan waktu untuknya
7.      Tidak menanggapi usulan
8.      Tidak dialogis dalam mengelola forum tarbiyah
9.      Tidak ramah dan lembut
10.  Tidak pernah menayakan kondisi
11.  Tidak pernah memuji
12.  Tidak mau mengakui kesalahan dan meminta maaf
13.  Membicarakan di depan mutarabbi yang lain ketika yang bersangkutan tidak hadir

 "jika kau mendidik satu perempuan maka
sesungguhnya kau mendidik satu generasi"
SEMANGAT MEMBINA!!!

Jumat, 20 Mei 2011

Kajian Pekanan : Hadirnya, Hadirmu, Hadirku

Islamedia - Bermacam kisah kudengar, tentang kehadiran dalam kajian pekanan. Kurekam baik-baik dalam ingatan. Dan inilah kisah-kisah itu.

Ada seorang bapak, penjual bubur ayam di daerah trans. Untuk bisa datang ke kajian pekanan, dia harus meliburkan diri 3 hari dari menjual buburnya karena jarak tempat mengaji yang cukup jauh dari rumahnya, di kota. Karena kondisi ekonominya yang pas-pasan, dia sering kesulitan ongkos. Hingga ia memilih naik sepeda tuanya, seharian. Ya, seharian! Menuju tempat kajian. Nasib mujur kalau ada truk besar yang mau ditumpangi. Maka ia dan sepedanya bisa menumpang barang sebentar, mempersingkat jarak dan menghemat tenaga. Tetapi itu jarang sekali.

Hari kedua, ia gunakan untuk mengaji di kota. Sekaligus menghadiri berbagai kajian lain yang memungkinkan, mumpung ke kota.

Lalu hari ketiganya, ia kayuh lagi sepeda tuanya seharian, pulang ke rumah. Dan itu terjadi sepekan sekali. Dia rela hanya bekerja 4 hari dalam seminggu, demi kajian pekanan yang tak ingin ia cederai.

 -----&&&---

Ada juga seorang ibu rumah tangga, tinggal di ibukota, yang untuk datang ke kajian pekanan, karena tak ada ongkos dan suaminya lama belum pulang dari ikhtiar mencari nafkah, dia terpaksa menjual beberapa peralatan dapurnya ke tukang rombeng. Tak ada yang mengetahui hal ini, kalau saja tak secara kebetulan ada teman satu kajian yang sedang berkunjung ke rumahnya, dan melihat transaksi jual beli itu. Yang lalu dia ceritakan pada guru ngajinya, dan disambut rasa trenyuh oleh sang guru.

-----&&&---

Lalu ada lagi, seorang ibu rumah tangga, sebut saja Arni, masih di ibu kota, saat harus hadir dalam kajian pekanan, dengan malu-malu dia sms pada guru ngajinya, 
“Bu, maaf... boleh tidak nanti siang saya ijin tidak datang? Saya tak punya ongkos untuk pulang balik ngaji ke tempat ibu. Suami juga belum pulang jadi saya gak bisa minta ongkos”
Trenyuh gurunya membaca sms itu. Menitik perlahan air matanya, diketiknya balasan via sms, “Bu, ibu masih punya ongkos untuk sekali jalan ke sini? Kalau ada, silahkam datang, Semoga Allah mudahkan”.
Tak ada lagi balasan dari bu Arni.

Beranjak guru itu menyiapkan sedikit bingkisan untuk anak-anak bu Arni, juga menyelipkan selembar uang biru bergambar I Gusti Ngurah Rai ke dalam amplop, sekedar pengganti ongkos untuk binaannya. Sambil tetap berharap, bu Arni akan datang.

Lalu, saat siang tiba, dengan berdebar, guru itu menunggu kedatangan bu Arni. Apakah ia akan datang?
Subhanallah.. ternyata bu Arni datang, tampak kerepotan membawa serta 3 anaknya yang masih kecil-kecil. Si guru mengelus dada, berlega hati, dan sembunyi-sembunyi menitikkan air mata. 
Saat kajian usai, dia serahkan bingkisan dan amplop itu pada bu Rani, yang disambut dengan wajah terperangah campur malu “Haduuh, gak usah ibu, Kok jadi repot begini”
“Ini rizqun minal-Lah, tidak baik kalau ditolak bu. Kalau ibu tidak berkenan, mungkin anak2 tetap membutuhkan”, kata si guru.
Dan berangsur, Bu Rani menerima bingkisan dan amplop itu, sambil memeluk gurunya, hangat..

-----&&&---

http://ukkiunso3d.files.wordpress.com/2009/10/picture4.jpg?w=495&h=371

Di sudut ibu kota yang lain, seorang ummi bingung, dari 10 binaannya, kenapa yang datang sekarang hanya 2-3 orang saja. Dia tanyakan pada yang hadir, mungkin ada yang tahu kabar temannya. Salah seorang lalu berkata, ”Iya nih Mi, si A sms saya, minta dipamitin ke ummi, katanya hari ini dia lagi tangggung, lagi perawatan cream bath di salon”
Masya Allah! Gara-gara cream bath lalu jadwal mengaji pun digugurkan? Si Ummi yang suaminya bekerja di luar pulau dan hanya pulang menengok anak istri sebulan sekali tersenyum kecut, berkata dalam hati, “Halah, lha saya kalau si Abi mau pulang gak gitu-gitu amat persiapannya. Ini yang masih gadis kok malah rajin amat ya perawatan? Sampe bolos ngaji?”

-----&&&---

Saat yang lain, seorang ibu muda memberitahukan lewat sms pada guru ngajinya,
“Bu, afwan gak bisa datang yaa. Saya mau kontrol bulanan untuk kandungan saya”

Hmm, dalam seminggu ada 7 hari. Apakah kontrol bulanan harus pada saat kajian pekanan? Apakah demikian sibuknya 6 hari yang lain hingga tak bisa mengagendakan untuk kontrol bulanan, sore atau malam harinya?

Lalu, pekan depannya lagi, ”Bu, maaf ijin tidak datang lagi. Saya mual benar hari ini”

Duhai, bukankah untuk mencetak kader mujahid sejati, justru mestinya sejak sang buah hati berada dalam kandungan? Bahkan jauh sejak sebelum itu, saat aqad nikah diucapkan? Jika seorang ibu yang hamil lalu tidak datang karena kajian dengan alasan mual, lalu bagimana jika mendapatkan cobaan yang lebih dari itu? Bagaimana kalau semua binaan semuanya sedang hamil, dan bersikap sama? Kosong melompong pada jam taklim?

Ayolah sayang, kita lawan rasa mual itu, jika kau ingin janin dalam perutmu menjadi mujahid tangguh. Lupakah kau, waktu aku ceritakan tentang kisah seorang ummahat yang sudah menunggu hari melahirkan, tetapi tetap bertekad baja datang ke kajian? Hingga akhirnya benar-benar mulas perut siap untuk melahirkan, saat sedang kajian?
Teringat si guru akan ucapan Sang Murabbi, Ust Rahmat Abdullah alm, saat sering mengikuti kajian di IQRO Islamic Center, ”Kalau kaki belum benar-benar gempor, tak ada alasan untuk tidak datang ke kajian”
”Ya ustad, sungguh aku rindu tausuyahmu...” desahnya dalam hati.

-----&&&---

Saat yang lain, seorang ummi bingung, karena salah satu binaannya lama tak terdengar kabar berita. Sudah dua kali kajian. Datang tidak, memberi kabar pun tidak. La salam wa la kalam. Akhirnya, si guru menelponnya. Ah, ternyata dia malu untuk minta ijin, karena 2 pekan sebelumnya dia sulit menolak ajakan teman-teman SMA-nya untuk reunian. Sementara sepekan yang lalu, sebenarnya sudah siap mau berangkat, tetapi tiba- ada ada tamu saudara jauh yang datang.
Tinggal si ummi garuk-garuk kepala. Sangat berharap pekan depan tidak ada lagi alasan bagi si gadis untuk tidak datang.

-----&&&---

Di suatu kota, ada seorang ibu yang lapor via sms pada guru ngajinya, sesaaat setelah jadwal kajian usai dan dia tak nampak hadir,”Bu, maaf ya tadi gak bisa hadir. Anak-anak mendadak ngajak berenang”
“Ya Rabb, semoga besok-besok lagi anak-anak itu tidak mengajak ibunya berenang pada saat jam kajian” kata si guru, dalam hati.

-----&&&---

Lalu, di pinggiran ibukota, seorang ibu muda yang juga pekerja, bingung saat esok hari dia tak bisa hadir kajian pekanan karena sedang bertugas di luar kota.

“Bu, maaf besok tidak bisa hadir. Saya ada tugas ke luar kota. Mmm, iqob untuk saya apa bu? Gak enak hati nih jadinya”

”Wah tugas keluar kota lagi ya? Seperti kesepakatan, selain infaq 10% sisa uang SPPD, sekarang tambah dengan hafalan Surat Al-Mumtahanah dan buat makalah 4 lembar tentang peran akhwat dalam dakwah ya” balas gurunya via sms.

”Gleg, banyak juga nih PR-nya. Ya sudahlah, Siapa suruh gak datang kajian pekanan. Bismillah, semoga pekan depannya bisa, sambil menyetor iqob hafalan dan makalah,” begitu tekadnya dalam hati.


Lalu, aku pun tertunduk malu
Dimana aku berdiri, kini?
Dimana pula kau berdiri, kini? 

Mukti Amini

Selasa, 26 April 2011

Komitmen Da'i Sejati

Saudaraku,, mungkin kita memiliki aktifitas yang luar biasa. Tak hanya kegiatan yang diperuntukkan kepentingan pribadi namun kegiatan sosial bahkan dakwah mengisi hari-hari kita. Sampai ada pepatah dari seorang teman yang menyatakan “aku tidak mengenal hari sabtu dan minggu”.. begitulah waktu demi waktu, hari demi hari dilewati dengan aktifitas yang telah menyita waktu, pikiran, tenaga hingga materi. Namun apakah yang kita lakukan sudah berjalan sesuai dengan sebagaimana mestinya?? Mari kita renungkan hal-hal berikut ini :

  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merbak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin  yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
  • Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka hati seorang da’i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.
  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah “Saya sadar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin Anda akan selalu memaafkan saya.”
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka tidak mungkin akan terjadi kecerobohan dalam menunaikan kewajiban dan tugas dakwah. Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka semua ornag akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap da’i, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena dia akan selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan atau mencegah kemungkaran. Atau, menjadi murabbi yang gigih mendidik dan mengajari anak serta istrinya di rumah. Da’i yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
  • Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun. Semboyannya adalah “Apa yang ada padamu akan habis dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.”
  • Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan patuh dan taat tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi arti keuntungan pribadi dan menang sendiri.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata. Tidak ada kata “ya” untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat. Kata yang ada adalah kata “ya” untuk setiap perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.
  • Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka setiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakan kebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip dakwah di dalam hatinya.
  • Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah.
  • Jika ada yang bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa sebenarnya bentuk komitmen saya terhadap dakwah?” (Komitmen Da’i Sejati)


Sebenarnya apa yang telah dilakukan? Bisa saja semua itu hanyalah rutinitas yang tak bernilai. Sungguh telah merugi diri yang melakukan aktifitas tapi tak bernilai dan bermakna. Semoga kita dapat merefleksi atas teguran-teguran itu dan memperbaharui komitmen terhadap dakwah.

  
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." 
(QS. At Taubah: 41)
 
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS.An Nahl:97)

 Wallahu'alam...