Minggu, 22 Januari 2012

Saudaraku...


Saudaraku yang kucintai,
Ingin sekali rasanya kebersamaan ini tak pernah berakhir.
Ingin sekali rasanya iringan langkah kita tak pernah putus.
Terus bersama dan beriring.
Kita bahkan, selalu berharap agar Allah berkenan memasukkan kita ke dalam surga-Nya, bersama pula.

Saudaraku, begitulah ungkapan yang muncul kala kita menjalin pertemanan, persahabatan, persaudaraan karena Allah Swt. Kita telah mengawalinya dengan keimanan, dan keimanan itu harusnya tetap memelihara kita sampai kehidupan abadi di akhirat.

Saudaraku,
Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Mungkin kita sudah terlalu hafal dengan perkataan bahwa kehidupan ini merupakan ladang bagi akhirat. Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa hidup ini tak lain merupakan tempat ujian. Tempat menanam, menyemai, tempat bekerja, dan berjuang. Ia hanya persinggahan, sama sekali bukan akhir dari perjalanan. Atau dalam ungkapan Dr. Abdullah Azzam, tokoh legendaris jihad yang mati syahid di bumi Afghanistan : “Hidup ini adalah jihad. Dan umat ini tidak akan hidup kecuali dengan jihad.”

Saudaraku, jangan putuskan bait-bait doa kepada Allah agar tetap mengikat hati kita. Sepanjang kebersamaan ini, mungkin sudah banyak amal yang kita lakukan. Di antara kita banyak yang sudah mengalami letih, lelah, meneteskan peluh dan bahkan terluka, untuk sebuah kebaikan. Di antara kita juga, tak sedikit yang berlinang air mata untuk sebuah keyakinan. Mungkin kita merasa, telah mengukir dan menghiasi amal kita sebaik-baiknya untuk Allah swt. Ikhlas, bersih, tak ada tendensi. Tapi saudaraku, hati-hatilah. “Berapa banyak lentera yang mati tertiup angin. Berapa banyak amal ibadah yang dirusak pelakunya sendiri...” begitulah nasihat Muhammad Ahmad Rasyid dalam Al Awa-iq.

Perhatikan perlahan-lahan, apa yang diungkapkan Fudhail bin Iyadh, tokoh salafushalih zaman Tabi’in, kepada mereka yang telah beribadah dan beramal shalih. “Iblis akan unggul atas manusia bila berhasil memunculkan salah satu dari tiga sifat yaitu: Kekaguman (ujub) kepada diri sendiri, melebih-lebihkan amal sendiri, dan kelupaan atas dosa-dosa yang dilakukan.”

Itulah tiga panah syetan untuk orang-orang yang beramal. Semuanya berawal dari rasa ujub, bangga atau kagum pada diri sendiri. Renungkanlah, saudaraku... Kita bisa saja mengatakan, “saya tidak ujub dengan amal-amal yang saya lakukan, saya tidak melebihkan amal yang saya lakukan, saya selalu berusaha mengingat-ingat dosa-dosa saya...” Tapi begitupun, jangan lengah. Karena semua itu belum menandakan jika kita selamat dari perangkap ujub yang lain. Para salafushalih yang mengerti tentang tabiat dan kecenderungan hati, tidak menghentikan pembahasan ujub sampai disini, ada banyak anak panah syetan yang harus diwaspadai.

Dalam sekali makna yang terkandung dari nasihat Sofyan Tsauri rahimahullah yang mengingatkan kita tentang hal ini. Ia mengatakan “Kalau engkau tidak ujub dengan dirimu, engkau mungkin saja senang dengan orang yang memujimu dan mungkin juga senang bila dengan pujian itu orang-orang memuliakanmu dengan amalmu. Mereka melihat dirimu mulia dan engkau memiliki tempat tersendiri di hati mereka...

Saudaraku,
Senang dengan pujian. Itulah yang dimaksud dengan nasihat Sofyan Tsauri. Inilah anak panah syetan berikutnya yang bisa merusak amal kita. Dan sedihnya, jarang orang yang bisa selamat dari bidikan syetan ini. Karena itu, Fudhail bin Iyadh memiliki pandangan tajam untuk menimbang dan menyikapi masalah ini. Ia mengatakan, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kemunafikan adalah jika seseorang menyukai pujian yang tidak ada pada dirinya. Kemudian ia membenci orang yang tidak menyukai dirinya karena sesuatu yang memang ada pada dirinya. Sementara, ia juga membenci orang-orang yang mengetahui aib-aibnya.. .”

Fudhail bin Iyadh sendiri, sangat berhati-hati soal pujian. Sampai-sampai diriwayatkan, andai Fudhail mendengar ada orang yang memujinya, kondisinya segera berubah menjadi aneh, nafasnya tersengal dan lisannya mengeluarkan kalimat-kalimat yang mencaci dirinya...

Saudaraku,
Panah ujub tak menancap hanya sampai disini. Mungkin saja seseorang tidak ujub pada dirinya, dan tidak suka dengan pujian, tapi ada celah lain yang bisa menjerumuskannya dalam penyakit ujub. Apa itu? “Siapa yang mencaci dirinya sendiri di hadapan orang lain, sesungguhnya dia itu alamat riya,” Begitu kata Hasan Al Bashri. Itu juga termasuk bagian dari ujub, yang kerap tidak disadari oleh pelakunya. Berniat untuk merendahkan diri, tapi yang terjadi syetan justru membalik keadaannya menjadi ujub. Ada panah ujub yang lainnya, yakni jika kita cenderung senang bila mendapatkan orang lain melakukan kesalahan. Seperti diingatkan oleh Fudhail, “Di antara alamat munafik adalah bila seseorang senang mendengar kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan orang lain.” Ini yang paling aneh dan paling sulit terdeteksi.

Saudaraku, renungkanlah
Sesungguhnya Allah sudah terlalu banyak menutupi kekeliruan, keterpelesetan, kesalahan dan aib kita. Itu nikmat Allah yang harus kita syukuri. Dari sanalah kita bisa mengendalikan rasa kagum pada diri sendiri, mampu menyikapi pujian, tidak senang mendengar kekurangan orang lain dan semacamnya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disindir Khalid bin Shafwan,” Ada orang yang tertipu karena Allah menutupi aib-aibnya dari orang lain. Ada juga orang yang tertipu oleh baiknya pujian.” Khalid menambahkan, “Jangan engkau terkalahkan oleh ketidaktahuan orang lain terhadap dirimu yang kemudian memujimu, sementara engkau sangat mengetahui kondisimu sendiri.” (Ahmad Rasyid, Al Wa-iq, 52)

Saudaraku,
Cukuplah hanya Allah yang mengetahui dan mengenal perbuatan baik yang kita lakukan. Seseorang bisa saja, mendapat nilai seratus dari manusia, namun sesungguhnya ia tak memiliki nilai apa-apa di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang bisa saja mendapat nilai seratus di sisi Allah, namun ia seperti tak memiliki nilai apapun di hadapan manusia.

Simaklah sebuah kisah dari seoarng tabi’in yang hidup di zaman Umar,
Ibnu Auf Ahmasi. ”Ketika saya berada di hadapan Umar Bin Khattab, datanglah seorang utusan dari Nu’man bin Maqran, salah seorang komandan perang Nahawand. Ia melaporkan nama-nama kaum muslimin yang gugur di medan perang Nahawand. Ia menyebutkan nama mereka satu per satu...fulan. ..fulan.. .fulan dan seterusnya. Kemudian utusan itu mengatakan , “Selain itu, kami tidak mengenal nama-nama mereka...” Saat itu Umar segera mengatakan, ”Akan tetapi Allah pasti mengenal mereka”. Dalam lafadz yang lain disebutkan perkataan Umar, “Akan tetapi Yang Memuliakan mereka dengan syahadah, pasti mengenali wajah dan keturunan mereka.” (Al Kharaj, Abi yusuf, 35)

Camkanlah, saudaraku, cukup hanya Allah yang paling berhak menilai dan menghitung amal kita...

Sumber : Tarbawi Press “Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga”

Jumat, 04 November 2011

Festival Islam UNJ

Jeratan Syeitan

Tujuh jeratan syeitan

  1. Pintu kekafiran
  2. Bid'ah
  3. Dosa-dosa besar
  4. Dosa-dosa kecil
  5. Perbuatan mubah yang melalaikan ibadah
  6. Menyibukkan dengan perkara fadhilah
  7. Penyiksaan terhadap musuh-musuh Islam

Jumat, 21 Oktober 2011

Lelah, Teramat Lelah

Islamedia - Lelah. Mata ini lelah. Selalu terjaga, takut tertidur dan lengah. Jangan, jangan pejamkan mata, karena tugasmu berjaga.

Tengah malam gelap gulita, mata ini masih terjaga. Berkhalwat khusyuk di kesunyian, munajat kepada Dia Yang Maha Perkasa. Memohon kekuatan, kemampuan, keteguhan, ketegaran, dalam perjalanan dakwah yang amat panjang tak terkira.

Pagi-pagi buta, mata ini tetap terjaga, jangan sampai umat terlanda bahaya dan bencana pada saat kita lengah menjaga mereka. Siang terang benderang, mata ini selalu terjaga, melakukan hal terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Lelah. Pikiran ini sangat lelah. Tak pernah berhenti mencerna ayat-ayat yang dibentangkanNya di alam semesta. Selalu berpikir, selalu menganalisa peristiwa, selalu merangkai kejadian di depan mata. Merancang strategi, taktik, upaya, cara dan sarana. Memetakan potensi para aktivis yang selalu setia bekerja dimanapun mereka berada. Memetakan jalan bagi kemenangan perjuangan, meretas kejayaan pergerakan. Memikirkan masa depan masyarakat, bangsa dan negara. Memikirkan rencana strategis, membangun peradaban masa depan yang gilang gemilang.

Lelah. Jiwa ini sungguh lelah. Setiap hari disuguhi konflik, kerusuhan, permusuhan, penyimpangan, dan penyelewengan dimana-mana. Setiap saat dihadapkan pada persoalan-persoalan kehidupan yang kian kompleks dan kian merata. Satu persoalan bangsa belum selesai diurai, muncul persoalan berikutnya. Satu konflik belum selesai dilerai, muncul konflik di tempat lainnya. Satu kasus belum selesai diungkapkan kebenarannya, telah menyusul kasus-kasus sekian banyaknya. Persoalan internal bertumpuk, pada saat yang sama harus tampil tegar menghadapi persoalan eksternal. Persoalan keluarga mengemuka, pada saat harus menyelesaikan persoalan bangsa dan negara.

Lelah. Tubuh ini teramat lelah. Tubuh yang jarang dipenuhi hak-haknya. Kapan sempat olah raga, kapan sempat refresing dengan keluarga, kapan sempat bercengkerama dalam suasana luang, kapan sempat istirahat. Teramat sering para aktivis diistirahatkan oleh Tuhan Yang Maha Penyayang, karena dirinya tidak sempat beristirahat. Tubuh kian lemah, karena dipaksa terus bekerja, melakukan hal terbaik yang bisa dikontribusikan di jalan kebaikan. Terlalu sering tidak sempat memenuhi hak-hak tubuh, sementara ia harus selalu bekerja pagi, siang, sore dan malam. Terlalu sering tubuh dipaksa melakukan kerja di luar batas kesanggupannya, karena sangat ingin memenuhi kewajiban di jalan perjuangan.

Lelah. Kaki ini tak terperikan lelahnya. Menyusuri jalan terjal mendaki, berliku, penuh duri dan bebatuan keras. Jalan ini harus ditempuh, karena hanya ini yang akan membawa mencapai tujuan. Tak ada jalan lain, tak ada jalan pintas. Kaki yang tak pernah berhenti melangkah, menapaki jalan Kenabian, menapaki jalan para pejuang, menapaki jalan para pahlawan. Menapaki jalan yang akan membawa umat kepada peradaban mulia.

Lelah. Tangan ini sangatlah lelah. Melakukan kerja-kerja sosial, membaktikan karya bagi umat, menciptakan prestasi untuk negeri. Tangan ini selalu peduli, berbagi, memberi, dan berkontribusi. Tangan yang selalu kreatif menorehkan kerja nyata bagi masyarakat. Tangan yang selalu bermanfaat untuk membantu yang lemah, menolong yang resah, merangkul yang gelisah. Tangan yang selalu terbuka untuk menampung berbagai keluh kesah, dan siap memberikan bantuan bagi yang memerlukan.

Lelah. Diri ini teramat lelah. Semua potensi diri telah disumbangkan untuk melakukan yang terbaik. Terus bekerja, terus berkarya, terus berbuat untuk kejayaan Indonesia. Namun yang kita dapatkan adalah cemoohan. Sering yang kita dapatkan adalah caci maki dan sumpah serapah. Tak jarang yang kita temui adalah lontaran kebencian dan permusuhan. Lelah, rasanya telah habis semua tenaga, tak ada lagi yang tersisa, kendati kerja belum usai, belum juga tampak hasilnya.

Lelah. Di titik inilah kebahagiaan membuncah. Pada puncak kelelahan inilah kenikmatan benar-benar kita rasakan bak bunga merekah. Usapan lembut ayat-ayat Qur’an, “Jika kamu mendapatkan luka, maka sesungguhnya merekapun mendapatkan luka yang sama”, terasa masuk ke relung jiwa. Sangat dalam, dan sangat berkesan.

Sangat sejuk ungkapanNya sampai ke dalam dasar samudera jiwa, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Bukan hanya kamu yang lelah. Jangan GR. Mereka juga lelah, semua juga lelah. Tetapi, apakah kelelahanmu di jalan kebenaran ? Apakah lelahmu di jalan Kenabian ? Apakah lelahmu di jalan Tuhan Yang Penyayang ?

Jika lelahmu di jalan Tuhan, masih adakah artinya menghitung jumlah lelah ? Masih perlukah mengeluhkan kelelahan ? Masih adakah keperluanmu membuat perhitungan dengan kelelahan ?

Oleh : Cahyadi Takariawan
Rabu, 19 Oktober 2011, 23:30wib
Usai Rapat di Markaz Dakwah

Senin, 26 September 2011

Dahulu Mereka Adalah Rijal, Kini Menjadi Buih

Oleh : Ustadz. Farid Nu'man
Islamedia - Sungguh, da’wah ini tidak akan mengalami kerugian sama sekali dengan adanya da’i yang insilakh (ter-eksitasi). Sebab, Allah Jalla wa ‘Ala Maha Berkuasa Atas Segalanya, akan menggantikan mereka dengan kaum yang lebih baik, kaum yang siap berjihad fisabilillah, dengan harta dan jiwanya. Janganlah mereka mengira, absennya mereka dari da’wah membuat da’wah goncang dan merasa kehilangan. Masih banyak abna’ul islam yang antri untuk memperjuangkan agama ini, dan meninggikan panji-panjinya. Untuk itu adalah hal yang mudah bagi Allah Jalla wa ‘Ala.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat at Taubah (9):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

إِلَّا تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


38. Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.

39. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya menjelaskan, bahwa ayat di atas, tidak ada perbedaan pendapat, turun ketika perang Tabuk tahun ke 9 setelah hijrah, ketika banyak manusia yang menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk berangkat ke Tabuk. Pada ayat 38 kalimat tanya, ‘Apakah sebabnya jika dikatakan kepadamu’ merupakan pengingkaran dan celaan (lil inkar wat tawbikh) atas perilaku mereka yaitu ayyu syai’ yamna’ukum min dzalik, apa yang menghalangi kalian untuk berangkat (an nafr). An Nafr adalah bertolak secara cepat dari satu tempat ke tempat lain karena adanya perintah. Apakah halangan itu adalah kenikmatan dunia? (dalam kitab lain disebut bahwa saat itu sedang musim panen kurma) Padahal ia tidak seberapa dibanding kenikmatan akhirat yang abadi.

Ayat 39, kalimat Illa tanfiruu (jika kamu tidak berangkat untuk berperang), ini merupakan peringatan yang keras, dan ancaman yang amat serius atas orang-orang yang tidak mau an nafr (berangkat jihad) ke Tabuk bersama Rasulullah Shailallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yu’adzdzibukum ‘adzaaban aliima artinya kalian akan dibinasakan dengan adzab yang keras dan menyakitkan. Ada yang mengatakan di dunia saja, ada pula yang mengatakan lebih dari itu.

Wa yastabdil qauman ghairakum artinya Allah Jalla wa ‘Ala akan jadikan untuk RasulNya pengganti kalian dari kalangan orang-orang yang tidak santai dan menunda-nunda memenuhi panggilannya. Siapakah kaum itu? Ada yang mengatakan penduduk Yaman, ada pula yang menyebut Persia, namun tak ada keterangan spesifik tentang ini. FirmanNya: Wa laa tadhurruu hu syai’a (dan kamu tidaklah memberi kemudharatan kepadaNya sedikit pun), masih berkait dengan yastabdil (diganti), adapun dhamir (kata ganti orang/pronomina) hu disebutkan untuk Allah, dan ada juga pendapat menyebutkan hu tersebut untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Jadi maknanya: Sama sekali tidak memudharatkan Allah jika kalian meninggalkan perintah untuk an nafr (berangkat jihad), dan sama sekali tidak merugikan RasulNya jika kalian tidak menolongnya dengan an nafr bersamanya. FirmanNya: Wallahu ‘ala kulli syai’in qadiir (Allah Maha Kuasa atas Segala sesuatu) maksudnya diantara kekuasaanNya adalah Dia mengadzabkan kalian dan mengganti kalian dengan kaum yang lain. Sampai di sini dari Imam Asy Syaukani.

Demikianlah, Allah Jalla wa ‘Ala sangat mampu membuat rijal-rijal baru untuk menggantikan yang lama yang telah menjadi buih. Buih benda yang amat ringan dan mudah terombang ambing. Tentunya, sudah tidak berharga.

Bagaimana Rijal yang Dimaksud?

Siapa dan bagaimana rijal yang diinginkan? Apakah sekedar laki-laki sesuai dengan makna bahasanya? Tidak! Rijal di sini adalah rijal yang digambarkan oleh Al Qur’an, bahkan bukan monopoli kaum laki-laki, sebab secara nilai dan esensi bisa saja kaum wanita lebih ‘rijal’ (baca: pejuang) dari laki-laki.

Inilah Rijal itu

1. Menepati janjinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk mati syahid

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al Ahzab (33):

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا


23. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),

Ayat ini turun lantaran tekad seorang sahabat yakni Anas bin an Nadhar Radhiallahu ‘Anhu yang luput darinya perang Badr, sehingga ia tidak bisa jihad bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat itu, ia berjanji akan ikut menemani jihad Rasulullah di Uhud, ketika terjadi peperangan ia terbunuh dengan tujuh puluh luka tombakan, lalu turunlah ayat di atas (HR. Muslim)

Kekuatan untuk menepati janji inilah yang menyebabkan Anas bin An-Nadhr ra (paman Anas bin Malik ra) membuktikan respon spontan kepada Sa’ad bin Mu’adz ra tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di perang Uhud dengan ucapannya:

يا سعد، الجنة.. إني لأجد ريحها من دون أحد

Ya Sa’ad ! Surga… aku mencium baunya di bawah bukit Uhud..

Kemudian beliau maju menjemput syahid sehingga jenazahnya tidak dapat dikenali kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya (Muttafaq ‘alaih - Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits no 1317).

Rijal seperti ini tidak bisa diam walau sejenak, ia selalu bergerak bersama da’wah atau para da’inya. Ia sedih jika tidak bersama mereka, menangis jika ketinggalan qafilah da’wah.

2. Berjiwa Pemimpin


Inilah ciri rijalud da’wah selanjutnya. Bermental pemimpin; cerdas, kuat, terjaga, amanah, dewasa, bertanggung jawab, siap menerima kritik, adil, melindungi dan mengayomi. Walau sewaktu-waktu ia harus siap menjadi prajurit, tanpa merasa direndahkan sebagaimana Saifullah al Maslul (pedang Allah yang terhunus) Khalid bin Walid Radhiallahu ‘Anhu.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat An Nisa’(4):

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

34. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...

Ayat ini merupakan ayat yang sharih (jelas) bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita, bukan hanya di rumah tangga tetapi juga dalam jamaah da’wah dan negara. Sebagian kaum rasionalis liberal mengatakan bahwa ayat ini hanya menunjukkan bahwa kepemimpinan laki-laki hanya pada rumah tangga. Ini pemahaman yang perlu dikoreksi. Dalam ushul fiqih ada istilah qiyas aula, contohnya, Allah ‘Azza wa Jalla melarang keras seorang anak berkata ‘uh’ terhadap kedua orang tuanya, nah jika ‘uh’ dilarang keras apalagi lebih dari itu seperti menganiaya secara fisik. Begitu pula dalam masalah ini, jika wanita bukanlah pemimpin di rumah tangga, apalagi yang lebih tinggi dan kompleks dari itu seperti Negara.

Namun, tidak bisa dipungkiri, tidak sedikit lelaki yang bukan rijal! Ia lebih lembek dari tahu, dan lebih lunak dari keong siput. Ini menjadi berita duka cita bagi kaum laki-laki. Juga tidak dipungkiri,,tidak sedikit wanita kuat bermental baja dan bernyali singa. Merekalah mujahidah yang di tangannya lahir singa-singa da’wah dan jihad seperti Kamaluddin as Sananiry, Marwan Hadid, Said Hawwa, ‘Imad ‘Aqil, Muhammad Fathi Farhat, ‘Abdullah ‘Azzam, dan lain-lain. Merugilah para ibu yang tidak mampu membentuk pribadi-pribadi seperti mereka. walau Anda bukan pemimpin, tetapi di tangan Andalah lahirnya para pemimpin dan pahlawan.

3. Selalu Berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Rijalud Da’wah, sesibuk apapun, tidak akan lepas darinya dzikir kepada Allah, baik lisan atau hati, baik sendiri atau kermaian, baik lengang atau sibuk. Berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan manifestasi dari mahabbatullah, sebab katsratudz dzikri (banyak mengingat) merupakan salah satu ‘alamat (tanda) jatuh cinta kepada Allah Ta’ala. Lebih dari itu, karena rijalud da’wah mengerti betapa dahsyatnya hari pembalasan itu.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat An Nur (24):

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

37. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya mengatakan: Inilah sifat rijal, kesibukkan mereka dalam perniagaan dan jual beli tidaklah melalaikan mereka dari mengingat Allah. Dikhususkannya perniagaan karena itu adalah kesibukkan yang paling besar bagi manusia. Ada pun perbedaan antara at tijaarah (perniagaan) dan al bai’(jul beli), adalah kalau at tijaarah aktifitas dagang bagi musafir, sedang al bai’ aktifitas dagang bagi yang mukim, sebagaimana yang dikatakan Imam al Waqidy.

Syahidul Islam, Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata dalam sepuluh wasiatnya: Qum ilash shalah mataa sami’ta an nidaa’ mahma takunuzh zhuruf (dirikanlah shalat ketika engkau mendengar panggilannya, bagaimanapun keadaanmu).(Risalatut Ta’alim wal Usar, hal. 39. Darut Tauzi’ lith thiba’ah al Islamiyah, 1984)

Responnya cepat terhadap hak ibadah seperti; tepat waktu, menjaga adab-adab dan rutinitasnya. Sehingga ia menjadi contoh bagi orang yang berinteraksi dengannya. Tanpa ia berda’wah secara lisan (lisanul maqal) pun, manusia sudah bisa merasakan ajakan kebaikan melalui perilakunya (lisanul haal).

4. Memakmurkan Mesjid

Aktifitas Rijalud Da’wah selalu terpaut dengan mesjid, bukan semata-mata badannya, tetapi hati dan akhlaknya. Di mana ia berada, tidak pernah menanggalkan akhlak mesjid, yaitu taqwa.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari akhir nanti, diantaranya): ……… Rajulun qalbuhu mu’llaqatun fil masjid (seseorang yang hatinya terpaut dengan mesjid) (HR. Muttafaq ‘Alaih. Riyadhus Shalihin, hadits no. 376)

Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin jabal Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda: “Bertaqwallah kalian di mana saja berada, dan ikutilah berbuatan buruk kalian dengan perbuatan baik, nicaya(kebaikan) itu akan menghapuskan keburukan, dan bergaul-lah dengan manusia dengan akhlak yang baik” (HR. At Tirmidzi, katanya hasan, dalam naskah lain hasan shahih, Arbai’n an Nawawi, hadits no. 18)

Allah Ta’ala berfirman dalam surat At Taubah (9):

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ


108. Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu (mesjid dhirar) selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang (rijal) yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Itulah karakter rijalud da’wah; shidq terhadap janji untuk mati syahid, berjiwa pemimpin, banyak berdzikir dan terpaut dengan mesjid. Namun, tidak sedikit orang-orang yang dahulunya rijal, sekarang hilang dari peredaran, jangankan da’wah, shalat berjamaah di mesjid pun tidak. Sibuk dengan urusan dunia, mengumpulkan harta, mengejar target hidup yang tak pernah habis, bahkan justru berbalik menyerang da’wah.

Kebersamaan dengan mereka kini tinggal kenangan saja. Dahulu menangis bersama, daurah, muzhaharah, syura, juga bersama, kini? Dimana kau saudaraku?

Bisa jadi, di antara mereka merupakan mu’assis (perintis) da’wah. Dialah yang membuka ladang da’wah pertama kali di tempatnya, dialah yang membangunkan manusia dari tidurnya, dialah yang merekrut banyak mujahid muda, namun kini, di mana kau saudaraku?

Semoga Allah tidak menyia-nyiakan amalmu yang bermanfaat, sebab yang bermanfaat akan tetap tinggal di bumi, adapun buih pasti akan lenyap. Renungkanlah ayat ini:


أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. Ar Ra’du (13): 17)
Wallahu waliyyut taufiq

Rabu, 07 September 2011

Benarkah Kita Kader Dakwah?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.
Jadi, benarkah kita kader dakwah ?

Sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1105

Qana'ah-kah Kita?

Oleh: Ust. Samson Rahman

Islamedia - Rakus dan tamak adalah penyakit kronis yang bisa menghancurkan seseorang, membelenggu mereka dari berbuat kebaikan dan mendorong mereka terjungkal dalam perbuatan nista dan durjana. Penyakit tamak adalah penyakit yang bisa diobati dengan resep manjur berupa syukur nikmat dan qanaah atas karunia Sang Maha Pemberi.

Orang-orang yang tamak dan rakus adalah mereka yang tidak menyadari bahwa dunia ini bersifat fana dan cepat berlalu. Dunia menjanjikan keabadian namun dia akan segera ingkar janji. Manusia melihatnya dia diam tiada gerak namun sebenarnya dia bergerak demikian cepat menuju kesirnaan. Namun yang melihatnya tidak merasa gerakannya yang demikian cepat menuju ujung kebinasaan. Dunia ini, sebagaimana dikatakan Hasan Al-Bashri, laksana mimpi-mimpi dalam tidur atau sebagaimana bayang-bayang yang segera lenyap, namun orang-orang yang cerdas tidak akan pernah tertipu dengannya.

Rasulullah bersabda : Apa urusanku dengan dunia. Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia ini bagaikan seseorang yang berjalan di musim yang panas yang sangat menyengat, kemudian dia bernaung di bawah naungan daunnya dalam beberapa waktu kemudian dia pergi dan meninggalkannya untuk selamanya (HR. Tirmidzi).

Maka sepantasnya bagi kita untuk bekerja sebaik-baiknya dan tidak terbuai dengan angan yang terus memanjang yang menjadikan kita lupa, dan jangan pula kita condong overdosis pada dunia karena dia akan menipu kita. Dia akan menampilkan seluruh pesonanya agar kita terlena, mabuk dalam jerat-jeratnya dan membuat hati terperangkat di dalamnya apabila jiwa kita menikmatinya. Maka marilah kita melihat dengan mata hati yang cerdas. Dunia itu tempat beramal kita, yang banyak uji cobanya, yang sering kali dicela manusia-manusia utama, karena mencintanya akan segera usai, kebaikannya hanya dinikmati terbatas, yang memilikinya juga akan meninggalkannya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayakan dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda : Ada tiga yang akan mengikuti mayit : keluarganya, harta dan amalnya. Dua yang pertama akan pulang meninggalkannya dan hanya tersisa hanya amalnya (HR. Bukhari Muslim).

Manusia serakah akan senantiasa menghitung-hitung dan mengkalkulasi harta yang dimilikinya dan mengira bahwa hartanya akan membuatnya terus abadi di dunia. Matahatinya buta dan gulita sehingga kesadaran intinya hilang bahwa harta dunia sifatnya sangatlah sementara.

Allah menggambarkan keadaan mereka : Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (Al-Humazah : 1-3). Dalam benak pencinta dunia yang rakus yang ada hanyalah harta dan harta, uang dan uang. Dia akan terus mengutip dari orang lain dengan tangan yang sulit terbuka untuk memberi pada sesama. Sifat kikirnya berurat dan berakar kuat, mendarah daging dan bahkan masuk ke tulang sumsumnya. Tangannya senantiasa menjadi tangan yang di bawah tak pernah naik levelnya.

Tidakkah mereka menyadari bahwa orang-orang yang cerdas itu bisa dilihat dari tiga sisa : Yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, dan membangun kuburnya sebelum dia memasukinya serta yang membuat Tuhannya ridha padanya sebelum dia bertemu dengan-Nya.

Ali bin Abi Thalib memberikan gambaran tentang dunia dengan indah dan gamblang : Sesungguhnya dunia adalah bahwa barang siapa yang merasa kurang di dalamnya maka dia akan dilanda kegundahan, dan barang siapa yang merasa cukup dengannya maka dia akan banyak mendapat ujian, dalam halalnya ada hisab, dalam haramnya ada iqab (siksa) dan dalam mubahnya ada ‘itab (celaan).

Maka sungguh aneh manusia yang demikian ngoyo berburu dunia namun dia melupakan akhiratnya. Tidakkah dia tahu bahwa dunia akan ditinggalkan atau meninggalkannya.

Qana’ahlah dengan dunia niscaya hidup kita akan bahagia. Ukuran qana’ah kita adalah : Tidak terlalu bersuka cita dengan apa yang ada dan tidak berduka cita dengan yang hilang, baginya sama saja antara pujian dan hinaan, senantiasa merasa intim dengan Allah, terus meniti ketaatan pada-Nya, lezat berjumpa dengan-Nya. Antara cintanya pada Allah dan cintanya pada dunia bagaikan air dan udara. Demikian jauh bedanya.

Fudhail bin Iyadh pernah berkata : Rumah yang dihiasi cinta dunia akan menjadi rumah yang penuh keburukan dan rumah yang dihiasi zuhud pada dunia akan bertabur kebaikan.

Kita memang tidak anti dunia, namun overdosis mencintainya membuat kita pasti celaka!!.

Wallohu A'lam,